INTERNET

Ratusan Ribu Data Agen Keamanan AS Bocor Akibat Peretasan

Ratusan Ribu Data Agen Keamanan AS Bocor Akibat Peretasan
Daftar Isi
  1. Detail Data yang Bocor
  2. Pihak di Balik Peretasan dan Tanggapan Resmi
  3. Rangkaian Peretasan dan Konteks Penegakan Hukum

Data pribadi yang mencakup lebih dari 41.000 personel yang bekerja untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat atau DHS bocor ke publik pada Rabu. Kebocoran informasi ini mencakup ribuan pegawai yang terlibat dalam penegakan hukum keimigrasian di negara tersebut.

Detail Data yang Bocor

Informasi yang bocor memuat nama, alamat kantor, serta nomor telepon para staf DHS, termasuk agen yang bertugas di Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai atau ICE serta Bea dan Cukai atau CBP. Selain itu, dokumen tersebut juga berisi deskripsi tugas yang mereka kerjakan untuk masing-masing instansi.

Menurut data yang ada, mayoritas agen yang tercakup, yakni lebih dari 21.000 orang, bekerja untuk CBP. Sementara itu, hampir 6.600 orang bekerja di bawah naungan ICE.

Catatan lain turut mengungkap para agen dari Investigasi Keamanan Dalam Negeri, Layanan Perlindungan Federal, hingga individu yang bekerja untuk Badan Keamanan Infrastruktur dan Siber. Informasi yang bocor juga memuat puluhan nama operasi yang sebelumnya tidak diketahui, daftar agen yang memimpin dan bekerja dalam operasi tersebut, serta beberapa teknologi yang mereka gunakan dalam pekerjaan, termasuk perangkat dari Cellebrite dan Palantir.

Pihak di Balik Peretasan dan Tanggapan Resmi

Pelanggaran informasi pegawai ini dipublikasikan secara daring pada hari Rabu oleh kelompok bernama Department of Peace bersama dengan periset keamanan siber sekaligus peretas maia crimew. Informasi tersebut ditempatkan dalam basis data bernama Icepick dan dibagikan melalui situs web yang di-host oleh Distributed Denial of Secrets atau DDoSecrets.

Emma Best selaku salah satu pendiri DDoSecrets menyatakan bahwa tujuan dari kebocoran ini bukanlah untuk menyediakan direktori setiap agen DHS. Melainkan, tujuannya adalah mengganti anonimitas dengan akuntabilitas.

Seorang juru bicara Department of Peace menuding langsung tindakan para agen ICE sebagai pemicu upaya kelompok mereka meretas catatan DHS. Department of Peace menyatakan bahwa mereka mengakses profil agen DHS melalui layanan masuk tunggal atau single sign-on bernama Okta.

Sementara itu, seorang juru bicara Okta menuturkan bahwa perusahaan mengetahui klaim yang disampaikan tersebut. Pihak Okta menegaskan bahwa sistem mereka aman dan tidak ada bukti data atau sistem mereka yang dikompromikan. Perwakilan dari DHS sendiri tidak segera merespons permintaan komentar.

Rangkaian Peretasan dan Konteks Penegakan Hukum

Kebocoran pada hari Rabu ini menandai ketiga kalinya dalam beberapa pekan terakhir sebuah lembaga pemerintah menjadi sasaran peretasan atau kebocoran data. Bulan lalu, FBI diretas oleh kelompok bernama ShinyHunters yang mengambil informasi pribadi tentang ribuan agen. Dalam hari-hari belakangan, Komisi Pemilihan Umum Federal juga terpaksa offline akibat dugaan upaya peretasan.

Gelombang penolakan publik terhadap penegakan hukum imigrasi di AS terus meningkat seiring langkah Pemerintahan Trump yang mendorong peningkatan besar-besaran dalam penangkapan dan deportasi. Operasi imigrasi tahun ini berulang kali diwarnai kekerasan, di mana agen ICE dilaporkan menembak lebih dari dua lusin orang dan menewaskan sedikitnya sembilan orang.

Sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat pada tahun 2025, Amerika Serikat telah memberlakukan hampir satu juta deportasi berdasarkan data dari Migration Policy Institute. Lebih dari 70 persen dari total deportasi tersebut dilakukan terhadap individu yang tidak memiliki catatan kriminal.

Insiden kebocoran data agen DHS ini dipublikasikan secara daring setelah kelompok peretas menyebarkannya melalui basis data Icepick.

Mungkin Anda Suka