KEUANGAN

Bank Sentral Eropa Tahan Suku Bunga dan Beri Sinyal Kenaikan

Bank Sentral Eropa Tahan Suku Bunga dan Beri Sinyal Kenaikan

Bank Sentral Eropa (ECB) menahan suku bunga acuannya di level 2,5 persen pada Kamis (29/10). Langkah tersebut diambil di tengah lonjakan inflasi kawasan Eropa yang meroket ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Keputusan Suku Bunga dan Proyeksi

Berdasarkan keputusan rapat, suku bunga deposit facility tetap berada di posisi 2,5 persen setelah sempat dinaikkan sebesar 25 basis poin pada September lalu. Dewan Gubernur ECB menyatakan bahwa kenaikan harga energi memicu kenaikan inflasi sekaligus berdampak pada pertumbuhan ekonomi, sementara inflasi inti dan pertumbuhan upah dinilai masih relatif stabil.

“Pada saat ini, kami tidak melihat adanya efek putaran kedua selain dari apa yang telah dimasukkan ke dalam proyeksi,” ucap Presiden ECB, Christine Lagarde seperti dilaporkan detikcom dari CNBC pada Jumat (30/10/2026).

Lagarde menjelaskan sejumlah faktor utama yang berkembang sejak pertemuan kebijakan sebelumnya, termasuk kenaikan harga energi seperti minyak, bensin, bahan bakar, gas, serta margin pengolahan minyak. Selain itu, terjadi lonjakan tajam pada biaya pembiayaan jangka panjang dengan rata-rata imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang naik sekitar 35 basis poin.

Menurut Lagarde, Dewan Gubernur ECB sempat berpeluang menaikkan suku bunga acuan dengan mempertimbangkan dua faktor tersebut. “Namun, dengan mempertimbangkan akumulasi ketidakpastian yang kian meningkat serta inflasi inti yang secara umum tidak berubah, Dewan Gubernur secara bulat memutuskan bahwa posisi kita saat ini sudah cukup kuat untuk menahan suku bunga dan pendekatan terukur tetap menjadi langkah yang paling tepat,” ungkap Lagarde.

Data LSEG menunjukkan bahwa pasar uang memperkirakan peluang sekitar 67 persen untuk kenaikan suku bunga pada Desember mendatang menyusul pengumuman tersebut.

Lonjakan Energi dan Kondisi Ekonomi

Tingkat inflasi utama di wilayah Eropa pada bulan lalu melonjak hingga mencapai 3,8 persen, yang merupakan posisi tertinggi sejak September 2023. Inflasi energi sendiri melesat naik hingga 18,8 persen akibat gejolak yang terus berlangsung di Timur Tengah.

Tekanan harga energi ini kembali mencapai puncaknya setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada Februari lalu, yang mendorong ECB menaikkan suku bunga pada Juni untuk pertama kalinya sejak 2023.

Meskipun demikian, Dewan Gubernur menyampaikan bahwa ekonomi zona euro masih mampu mencatatkan pertumbuhan pada kuartal ketiga tahun ini. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pemulihan sektor jasa sejak awal konflik Timur Tengah, sementara sektor manufaktur, layanan digital, dan ekspor terbantu oleh gelombang investasi berbasis kecerdasan buatan.

Belanja pemerintah untuk infrastruktur dan pertahanan turut menjaga aktivitas bisnis agar terus terdorong. Kendati demikian, tingginya harga energi diproyeksikan dapat menggerus kepercayaan konsumen di tengah beban biaya pembiayaan yang semakin menekan pertumbuhan.

Dalam kesempatan yang sama, Lagarde menuturkan bahwa ECB akan terus memantau kenaikan biaya pinjaman di Prancis serta meningkatnya fragmentasi pasar yang sempat mencemaskan para pengamat. Ia menambahkan bahwa lonjakan biaya pinjaman jangka panjang di berbagai belahan dunia tidak hanya didorong oleh ekspektasi inflasi dan suku bunga, melainkan juga akibat penerbitan utang oleh sejumlah perusahaan raksasa teknologi yang menerbitkan lebih banyak obligasi jangka panjang sehingga memicu persaingan ketat di pasar.

Mungkin Anda Suka