Fenomena Hunter Moon atau Bulan Pemburu menghiasi langit pada Senin (26/10). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan karakteristik serta jadwal terbaik untuk menyaksikan fenomena tersebut.
Asal-Usul Nama Hunter Moon
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menyatakan bahwa fenomena Hunter’s Moon tidak memiliki perbedaan fisik dengan bulan purnama biasa, tetapi memiliki latar belakang budaya dan karakteristik unik.
Secara historis, Hunter Moon merupakan istilah tradisional untuk fase Bulan purnama yang muncul setelah Harvest Moon, tepatnya di bulan Oktober. Setiap tiga tahun sekali ketika Harvest Moon jatuh di awal Oktober, Hunter Moon akan bergeser ke bulan November.
Nama Hunter’s Moon berasal dari tradisi kalender penduduk asli Amerika suku Algonquian dan pemukim awal Eropa. Apabila Harvest Moon menandai panen raya, Bulan Pemburu menjadi momentum untuk melakukan perburuan guna mengumpulkan persediaan daging sebelum musim dingin tiba.
Ladang-ladang yang telah dipanen memancing hewan perburuan seperti rusa dan rubah untuk mencari sisa-sisa hasil panen. Cahaya Bulan purnama yang terang kemudian memudahkan para pemburu melacak target perburuan.
Jadwal Pengamatan dan Potensi Dampak
Di wilayah Jakarta, Hunter Moon dapat dilihat saat Bulan mulai terbit dari arah timur pukul 17.53 WIB, meskipun masih sulit terlihat karena posisinya dekat dengan garis horizon serta banyaknya gedung tinggi.
Bulan akan mencapai posisi tertinggi pada pukul 23.58 WIB dan terbenam keesokan paginya pukul 05.10 WIB. Waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini adalah saat posisi Bulan sudah berada cukup tinggi di langit, yaitu mulai pukul 20.00 WIB, dan aman dilihat dengan mata tanpa perlu pelindung khusus.
Di balik keindahan visualnya, fenomena Bulan purnama berpotensi memicu kenaikan permukaan air laut. Posisi Matahari, Bumi, dan Bulan yang berada dalam satu garis lurus menyebabkan gaya gravitasi gabungan yang memicu pasang purnama, sehingga BMKG mengimbau masyarakat pesisir untuk waspada terhadap dampak kenaikan air laut tersebut.








