EKONOMI

Harga Minyak Dunia Anjlok 7 Persen Usai Sinyal Damai AS-Israel

Harga Minyak Dunia Anjlok 7 Persen Usai Sinyal Damai AS-Israel
Daftar Isi
  1. Penurunan Signifikan di Pasar Minyak
  2. Sinyal Diplomasi dan Tanggapan Pemimpin
  3. Pandangan Analis dan Kondisi Pasokan
  4. Proyeksi Harga ke Depan

Harga minyak dunia mengalami kejatuhan tajam lebih dari 7 persen pada perdagangan Senin (2/11). Pelemahan tersebut dipicu oleh kabar pembicaraan antara pejabat Iran dan Qatar yang menumbuhkan harapan meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Israel.

Penurunan Signifikan di Pasar Minyak

Berdasarkan laporan yang dikutip dari Reuters pada Selasa (3/11), harga minyak mentah Brent merosot US$8,66 atau setara 7,63 persen ke posisi US$104,77 per barel. Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$7,66 atau 7,36 persen menjadi US$96,46 per barel.

Sepanjang sesi perdagangan, harga Brent sempat menyentuh titik terendahnya di level US$103,28 per barel. Sedangkan minyak WTI sempat berada pada level US$95,15 per barel.

Sinyal Diplomasi dan Tanggapan Pemimpin

Pelemahan harga minyak ini bermula setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah mendelegasikan wewenang kepada pemerintah untuk mengupayakan perundingan damai. Melalui media pemerintah Iran, Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran berkomitmen menyelesaikan masalah melalui jalur dialog.

Tim negosiasi Iran sebelumnya telah menjalankan perundingan selama beberapa hari bersama mediator asal Qatar guna menghentikan perang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menyampaikan pada Senin (2/11) bahwa pihak Iran menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan dan menilai perdamaian tersebut mungkin terwujud.

Menjelang Senin malam, pihak mediator dari Qatar langsung bertolak menuju Teheran guna melanjutkan pertemuan bersama Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi untuk membahas peluang kesepakatan antara Washington dan Teheran.

Pandangan Analis dan Kondisi Pasokan

Analis Raymond James, Pavel Molchanov, menjelaskan bahwa indikasi kemajuan dalam jalur diplomasi Amerika Serikat dan Iran menjadi motor utama penurunan harga. Kendati demikian, ia mengingatkan para pelaku pasar agar tetap waspada karena berbagai harapan perdamaian sebelumnya kerap berujung kebuntuan dalam beberapa bulan terakhir.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menyampaikan kepada CNN Indonesia bahwa pasar minyak masih memperlihatkan tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, kekhawatiran atas eskalasi konflik sempat mengerek naik harga komoditas tersebut pada pekan lalu, sebelum akhirnya berbalik merosot akibat proses diplomasi yang berjalan.

Rangkaian perundingan ini bergulir menyusul intensitas serangan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Di sisi lain, indikasi pemulihan pasokan mulai terlihat lewat peningkatan ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Oktober dibanding bulan sebelumnya, menurut catatan dua dari tiga perusahaan pelacak kapal.

Konflik yang pecah pada akhir Februari lalu tercatat telah menguras cadangan minyak global. CEO perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, ADNOC, Sultan Al Jaber, memaparkan bahwa hampir 1 miliar barel minyak telah terserap dari persediaan dunia sejak jalur pengiriman di Selat Hormuz terganggu oleh perang.

Proyeksi Harga ke Depan

Walaupun harga mengalami koreksi, sejumlah pengamat memperingatkan bahwa potensi lonjakan harga masih terbuka lebar. Goldman Sachs memproyeksikan harga minyak Brent berisiko melonjak hingga US$140 per barel pada tahun 2027 seandainya produksi minyak di kawasan Teluk tertahan 3,5 juta barel per hari di bawah rata-rata produksi tahun 2025.

Dalam publikasi risetnya, Goldman Sachs menegaskan bahwa eskalasi serangan terhadap jalur pelayaran, kerusakan fasilitas energi, serta keberlanjutan premi risiko akan menjadi faktor utama yang mampu memicu kembali kenaikan harga minyak.

Mungkin Anda Suka