TEKNOLOGI

NASA Pamerkan Foto Tangga Menuju Bima Sakti di Atacama

NASA Pamerkan Foto Tangga Menuju Bima Sakti di Atacama
Daftar Isi
  1. Ilusi Visual Tangga Langit
  2. Kelebihan Geografis Gurun Atacama
  3. Struktur Bima Sakti dan Fenomena Langit

Sebuah instalasi tangga batu di Gurun Atacama, Chile, tampil dalam tangkapan kamera seolah menjadi jalan penghubung langsung menuju Galaksi Bima Sakti. Pemandangan visual tersebut menciptakan kesan seakan-akan anak tangga di permukaan Bumi bersatu dengan hamparan bintang di angkasa luar.

Ilusi Visual Tangga Langit

Potret yang dinamai ‘Desert Stairway to Heaven’ tersebut terpilih sebagai Astronomy Picture of the Day (APOD) NASA pada 13 Oktober 2026. Bidikan lensa hasil karya Julien Looten itu menampilkan instalasi seni patung tangga berlatar belakang bentangan Bima Sakti yang berdiri hampir vertikal.

Sepintas lalu, ujung atas tangga tersebut mengarah langsung ke galaksi yang membentang di langit malam. Kendati demikian, koneksi antara tangga dan Bima Sakti tersebut murni merupakan ilusi perspektif yang timbul dari teknik pengambilan gambar, sudut kamera, serta ketepatan waktu.

NASA menerangkan, potret komposit sudut lebar itu diabadikan pada Juli 2025 lalu. Sang fotografer merancang komposisi visual sedemikian rupa sehingga bagian puncak instalasi Desert Staircase berposisi tepat di depan pita Bima Sakti yang menjulang dari garis cakrawala.

Kelebihan Geografis Gurun Atacama

Gurun Atacama bukan sekadar latar belakang estetis untuk keperluan fotografi astronomi. Kawasan di wilayah utara Chile ini diakui sebagai salah satu spot terbaik di planet bumi untuk memantau langit malam.

Aspek geografis serta iklim menjadi faktor utama keunggulan tersebut. Atacama memiliki area beretinggi signifikan, tingkat curah hujan yang amat rendah, serta kondisi atmosfer yang cenderung kering. Posisi wilayahnya yang terisolasi dari pusat pemukiman turut menekan tingkat polusi cahaya.

European Southern Observatory (ESO) mencatat, Observatorium Paranal yang berdiri di Gurun Atacama berada pada ketinggian sekitar 2.635 meter di atas permukaan laut. Titik tersebut dipilih lantaran kondisi atmosfernya sangat menunjang kegiatan observasi astronomi serta letaknya yang jauh dari aktivitas manusia.

Situasi langit yang bersih dan minim gangguan memungkinkan cahaya dari benda-benda angkasa yang sangat redup terdeteksi secara optimal. Faktor ini pula yang menjadikan Atacama sebagai destinasi favorit bagi para astronom maupun pegiat astrofotografi.

Struktur Bima Sakti dan Fenomena Langit

Objek paling dominan dalam potret rilisan NASA itu adalah pita terang Bima Sakti. Galaksi tersebut merupakan naungan bagi Tata Surya, yang mencakup Matahari serta Bumi. Dari sudut pandang permukaan Bumi, Bima Sakti tampak menyerupai jalur cahaya yang melintang di langit.

Kenampakan tersebut terjadi karena pengamat memandang galaksi dari interiornya sendiri. Tata Surya menempati salah satu bagian piringan galaksi, sehingga himpunan bintang di sepanjang bidang galaksi terlihat menyerupai pita berpendar.

Kendati demikian, tidak seluruh bagian pita tersebut memancarkan cahaya terang. Terdapat sejumlah zona gelap yang membelah bentangan Bima Sakti yang bukan merupakan ruang hampa, melainkan awan debu antarbintang dengan kepadatan tinggi yang meredam cahaya bintang di belakangnya.

NASA memaparkan, keberadaan debu antarbintang menyebabkan sebagian area pusat galaksi sulit diamati melalui cahaya tampak. Oleh sebab itu, peneropongan menggunakan spektrum panjang gelombang lain, seperti inframerah, membantu para astronom meneliti kawasan yang tertutup debu tersebut.

Pusat Galaksi Bima Sakti sendiri berjarak sekitar 26.000 tahun cahaya dari Bumi, mengarah ke rasi bintang Sagitarius. Wilayah ini menjadi salah satu titik galaksi yang paling padat dihuni bintang, awan gas, serta debu antarbintang.

Selain pita Bima Sakti, jepretan Julien Looten juga merekam berbagai fenomena astronomi lain. NASA mengidentifikasi kehadiran cahaya zodiakal atau zodiacal light di area kiri atas gambar, yang berupa pendar samar berbentuk pita dari pantulan sinar Matahari oleh partikel debu Tata Surya.

Terdapat pula pancaran warna merah dan hijau dekat cakrawala yang dinamakan airglow. Fenomena ini merupakan emisi cahaya alami yang berasal dari atmosfer Bumi akibat reaksi kimia serta pertukaran energi di lapisan udara.

Pada jalur cahaya zodiakal turut tampak bintang Spica yang bersinar terang di rasi Virgo. Sementara itu, pada sudut kanan paling atas foto, terlihat Awan Magellan Kecil atau Small Magellanic Cloud, yakni galaksi katai tetangga Bima Sakti.

Pengamatan lebih cermat pada garis cakrawala juga memperlihatkan Pegunungan Andes, Gunung Berapi Licancabur, serta pendar lampu permukiman San Pedro de Atacama. Kehadiran berbagai elemen tersebut menjadikan foto ini merekam lanskap Bumi, fenomena atmosfer, hingga benda-benda luar angkasa dalam satu bingkai tunggal.

Mungkin Anda Suka