SMARTPHONE

Rekor Penjualan Apple Melonjak, HP China Semakin Merosot

Rekor Penjualan Apple Melonjak, HP China Semakin Merosot

Apple resmi mengumumkan laporan keuangan untuk kuartal IV tahun fiskal 2026 yang berakhir pada September. Perusahaan asal Cupertino ini mencatatkan rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$114,5 miliar atau sekitar Rp2.076 triliun, yang melonjak 12 persen secara tahunan, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.

Kinerja Moncer Penjualan iPhone dan Layanan

Pertumbuhan keuangan Apple tersebut didorong oleh penjualan iPhone yang mencatatkan pencapaian pesat sepanjang kuartalan maupun tahun fiskal 2026. Penjualan iPhone pada kuartal September melesat hingga US$57,6 miliar atau sekitar Rp1.045 triliun, meningkat signifikan dari US$49,0 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara kumulatif selama 12 bulan penuh tahun fiskal 2026, total penjualan iPhone melonjak drastis hingga menyentuh US$254,1 miliar atau sekitar Rp4.610 triliun, melambung tinggi dibanding capaian tahun sebelumnya senilai US$209,6 miliar. Capaian ini menutup tahun fiskal 2026 Apple dengan total pendapatan rekor melampaui US$479 miliar atau setara Rp8.691 triliun, serta pertumbuhan laba per saham mencapai dua digit hingga US$2,10 per saham atau naik 14 persen.

CEO Apple John Ternus mengatakan bahwa lonjakan penjualan iPhone menjadi motor penggerak utama di tengah rentetan peluncuran jajaran produk paling ambisius dalam sejarah perusahaan.

“Hari ini, Apple dengan bangga melaporkan rekor pendapatan kuartal September sebesar US$114,5 miliar, naik 12 persen dari tahun lalu. Capaian ini didorong oleh rekor baru penjualan iPhone pada kuartal September serta pendapatan lini Layanan yang mencapai level tertinggi sepanjang masa,” ujar Ternus, seperti dikutip dari GSMArena.

“Kami menutup tahun ini dengan lini produk paling ambisius, termasuk peluncuran iPhone Duo sebagai iPhone paling transformatif sejak generasi pertama, bersanding dengan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max sebagai iPhone paling bertenaga yang pernah kami buat,” tambahnya.

Selain iPhone, lini bisnis Layanan juga menembus rekor tertinggi sepanjang masa dengan membukukan pendapatan US$31,6 miliar pada kuartal September, serta US$123,3 miliar untuk kinerja satu tahun penuh. Pada kategori perangkat keras, Mac mengambil alih posisi sebagai segmen terbesar ketiga dengan penjualan kuartalan US$10,8 miliar, menggeser Wearables, Home and Accessories yang terkoreksi ke angka US$8,3 miliar, serta melampaui lini iPad dengan pendapatan US$6,2 miliar.

Dari sisi geografis, wilayah Amerika Serikat dan sekitarnya memimpin sebagai kontributor pendapatan terbesar dengan penjualan bersih US$48,7 miliar pada kuartal IV 2026. Pasar Eropa menyumbang US$32 miliar, sementara kawasan China mencatatkan pendapatan US$17,5 miliar.

Penurunan Pengiriman Ponsel Asal China

Di tengah kinerja moncer iPhone, para pesaingnya dari China justru mengalami penurunan tajam. Berdasarkan laporan firma riset Counterpoint Research, merek-merek papan atas seperti Xiaomi, Oppo, dan vivo mencatatkan penurunan pengiriman yang sangat drastis akibat lonjakan biaya chip memori jenis DRAM dan NAND serta kelangkaan pasokan komponen global pada kuartal III 2026.

Lonjakan biaya chip memori tersebut dipicu oleh masifnya aksi borong pasokan untuk proyek-proyek infrastruktur kecerdasan buatan. Kondisi ini membengkakkan biaya komponen dan memaksa produsen menaikkan harga eceran ponsel hingga rata-rata 20 persen sepanjang 2026.

“Kuartal ketiga menjadi periode kedua berturut-turut yang merasakan dampak penuh dari krisis memori. Kelangkaan ekstrem ini mendorong pasar ke fase yang lebih selektif,” ujar Analis Senior Counterpoint, Shilpi Jain.

Dampak krisis komponen ini menghantam keras strategi vendor China yang mengandalkan volume penjualan tinggi pada segmen harga terjangkau dari entry-level hingga mid-range. Xiaomi mencatatkan rekor penurunan paling tajam di antara pemain utama, dengan pengiriman yang terjun bebas lebih dari 30 persen secara tahunan dan pangsa pasar yang tergerus hingga tersisa 10 persen. Perusahaan terpaksa mengurangi porsi produksi pada segmen harga murah dan memangkas ekspansi di pasar luar negeri.

Sementara itu, Oppo yang mencakup OnePlus dan realme, serta vivo, mengalami anjlok pengiriman lebih dari 20 persen secara tahunan. Capaian tersebut membuat pangsa pasar Oppo dan vivo masing-masing merosot menjadi 9 persen dan 8 persen. Oppo mengonsolidasikan lini produk serta operasional lintas merek untuk efisiensi biaya, sedangkan vivo harus menghadapi kenyataan bahwa kenaikan harga menggeser model-model murah seri Y keluar dari rentang harga terjangkau.

Mungkin Anda Suka