UMUM

Penjelasan Ilmiah Fenomena Ketindihan Saat Tidur

Penjelasan Ilmiah Fenomena Ketindihan Saat Tidur
Daftar Isi
  1. Penjelasan Medis Sleep Paralysis
  2. Penyebab dan Gejala Ketindihan
  3. Penanganan dan Pencegahan

Fenomena ketindihan saat tidur yang sering dianggap sebagai pengalaman mistis atau gangguan makhluk halus ternyata memiliki penjelasan medis. Pakar menjelaskan bahwa kondisi tersebut secara ilmiah dikenal sebagai sleep paralysis.

Penjelasan Medis Sleep Paralysis

Ahli neurologi dari Fakultas Kedokteran IPB University, Yeni Quinta Mondiani, menjelaskan bahwa ketika tidur seseorang mengalami penurunan kesadaran secara reversibel yang merupakan proses fisiologis berulang. Ia mengatakan bahwa saat tertidur, seseorang mengalami penurunan fungsi kognitif secara global sehingga otak tidak bisa merespons penuh terhadap stimulus sekitar, seperti dilansir dari laman resmi IPB University.

Siklus tidur manusia terbagi menjadi lima fase, yakni empat fase Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan satu fase Rapid Eye Movement (REM) yang terus berulang. Fase ketiga dan keempat NREM merupakan fase tidur paling dalam yang berfungsi mengembalikan kesegaran tubuh setelah beraktivitas. Fase tersebut secara fisiologis memiliki ambang yang tinggi untuk terbangun dan sering diasosiasikan dengan gangguan tidur seperti sleep walking dan sleep terror, sementara fase REM adalah saat mimpi bisa diingat.

Pada fase REM terjadi hambatan sinyal motorik yang sangat kuat sehingga hanya sedikit gerakan yang muncul. Yeni menjelaskan bahwa sleep paralysis termasuk jenis gangguan tidur parasomnia, yaitu keadaan terbangun saat awal tidur atau selama tidur yang tidak mengubah kualitas maupun kuantitas tidur.

Penyebab dan Gejala Ketindihan

Sleep paralysis adalah ketidakmampuan bergerak pada saat awal atau akhir tidur sementara subjek telah terbangun. Gangguan ini terjadi pada fase REM ketika seharusnya otot tidak dapat digunakan sementara subjek tertidur, sehingga tubuh masih berada di fase tidur tetapi otak sudah aktif.

Kondisi ini umumnya muncul pertama kali pada usia 15 hingga 35 tahun secara tidak menentu akibat kurang tidur, stres, gangguan kecemasan, faktor keturunan, serta kondisi medis seperti narkolepsi. Sebagian besar subjek tertidur dengan posisi terlentang dan tidak dapat bergerak, sekalipun napas dan jantung bergerak secara normal, dengan tiap episode biasanya berlangsung beberapa detik hingga menit.

Selama waktu kejadian, orang yang mengalaminya memiliki kesadaran bahwa ini sedang terjadi, tetapi tidak bisa bergerak dan memicu rasa takut yang dikaitkan dengan hal mistis. Gejala lain seperti halusinasi juga mungkin bisa muncul, terutama jika pemicunya adalah gangguan tidur narkolepsi, namun episode ini dapat berakhir secara spontan.

Penanganan dan Pencegahan

Orang yang mengalami sleep paralysis disarankan untuk mulai memperbaiki gaya hidup dan pola tidur serta menerapkan sleep hygiene seperti mengatur jam tidur dan bangun. Langkah lainnya adalah membatasi konsumsi kafein, makanan berlemak atau cepat saji, melakukan exercise ringan, serta mengatur perangkat elektronik di sekitar.

Apabila kondisi tersebut tidak membaik setelah melakukan langkah-langkah penanganan mandiri, Yeni menganjurkan untuk berkonsultasi ke dokter jika sleep paralysis cukup mengganggu aktivitas atau terus bertambah sering. Pasien perlu berobat ke dokter spesialis untuk pemberian obat antidepresan serta tata laksana untuk penyakit penyerta seperti narkolepsi.

Mungkin Anda Suka