EKONOMI

Laporan UNDP 2026: 617 Juta Anak Dunia Terjerat Kemiskinan

Laporan UNDP 2026: 617 Juta Anak Dunia Terjerat Kemiskinan
Daftar Isi
  1. Anak-Anak Menanggung Beban Lebih Besar
  2. Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan Jadi Pusat Krisis
  3. Penurunan Kemiskinan Anak Bisa Lebih Cepat

Kemiskinan global menaruh beban paling berat di pundak anak-anak dengan ancaman keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, gizi, hingga tempat tinggal layak. Laporan Global Multidimensional Poverty Index (MPI) 2026: Statistical Update dari United Nations Development Programme (UNDP) bersama Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) University of Oxford mengungkapkan sebanyak 617 juta anak di bawah usia 18 tahun hidup dalam kemiskinan multidimensi.

Anak-Anak Menanggung Beban Lebih Besar

Angka tersebut setara dengan 51,5 persen dari total 1,2 miliar penduduk miskin multidimensi di 108 negara yang diteliti, yang berarti lebih dari separuh warga miskin dunia saat ini adalah anak-anak. Riset ini memperkirakan satu dari tiga anak mengalami kemiskinan multidimensi, sementara pada kelompok dewasa rasionya jauh lebih rendah yaitu satu dari tujuh orang.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa usia menjadi faktor penting untuk memahami siapa yang paling rentan menghadapi krisis kebutuhan dasar, tulis laporan resmi UNDP dan Oxford, seperti dikutip Minggu (25/10/2026). Penilaian kondisi anak dalam metode MPI diukur dari indikator kualitas hidup rumah tangga seperti gizi, angka kematian anak, partisipasi sekolah, sanitasi, listrik, air bersih, hingga kelayakan hunian.

Jika sebuah keluarga tidak memiliki akses listrik atau air bersih, anak-anak di dalamnya otomatis menanggung dampaknya, begitu pula saat anggota keluarga tidak pernah mengecap pendidikan dasar atau anak usia sekolah terpaksa putus sekolah. Temuan ini menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup dengan membagikan bantuan tunai, melainkan pemerintah perlu menjamin akses langsung anak terhadap gizi, kesehatan, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal yang sehat.

Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan Jadi Pusat Krisis

Secara geografis, Afrika Sub-Sahara menanggung krisis kemiskinan anak terbesar di dunia dengan 355 juta anak miskin multidimensi atau 57,7 persen dari total warga miskin di wilayah tersebut, yang didominasi oleh minimnya infrastruktur dasar seperti listrik, air bersih, dan bahan bakar memasak yang layak. Asia Selatan menyusul di urutan kedua dengan 181 juta anak miskin multidimensi atau 46,1 persen dari total warga miskin setempat, dengan pemicu utama berfokus pada masalah gizi buruk, kualitas hunian minim, serta tingginya angka anak putus sekolah.

Perbedaan pola tersebut menunjukkan bahwa solusi pengentasan kemiskinan anak harus disesuaikan dengan karakter daerah masing-masing, bukan menggunakan satu resep yang sama. Di sisi lain, data menunjukkan bahwa kemiskinan pada kelompok anak sebenarnya bisa dipangkas lebih cepat ketimbang kelompok dewasa jika diintervensi dengan tepat.

Penurunan Kemiskinan Anak Bisa Lebih Cepat

Dari 102 periode pengamatan negara yang berhasil menekan angka MPI, sebanyak 84 periode di 61 negara mencatatkan penurunan kemiskinan anak yang lebih pesat ketimbang orang dewasa. Namun, tren positif ini belum merata karena terdapat kasus ketika kemiskinan orang dewasa membaik tetapi kondisi anak-anaknya justru stagnan, yang menjadi peringatan bagi pemerintah agar selalu memisahkan data kemiskinan berdasarkan kelompok usia agar anak-anak tidak terabaikan.

Target memangkas kemiskinan multidimensi hingga separuhnya pada 2030 merupakan tujuan utama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di mana laporan UNDP dan OPHI mencatat sudah ada 33 negara yang berhasil memangkas separuh nilai MPI mereka dalam waktu kurang dari 15 tahun. Keberhasilan ini membuktikan bahwa pengentasan kemiskinan skala besar sangat mungkin diwujudkan dengan kunci terletak pada pemanfaatan data terpilah hingga tingkat daerah agar bantuan dan program perbaikan layanan publik bisa menyasar kelompok anak yang paling membutuhkan.

Mungkin Anda Suka