Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sedang mempelajari proposal pengadaan Kereta Rel Listrik (KRL) bekas asal Jepang yang diajukan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Rencana impor tersebut diajukan demi memenuhi kebutuhan layanan Commuter Line di wilayah Jabodetabek.
Evaluasi Spesifikasi Teknis KRL
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono menjelaskan bahwa pihaknya belum memberikan persetujuan karena proses evaluasi spesifikasi teknis masih berlangsung. Evaluasi mendalam tersebut difokuskan pada kelaikan operasi serta spesifikasi teknis untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan penumpang.
Allan menyampaikan bahwa proposal dari PT KAI sudah diterima dan saat ini sedang dipelajari serta dievaluasi, khususnya terkait spesifikasi teknis. Kemenhub masih menantikan detail lengkap mengenai rangkaian KRL bekas yang akan diimpor, termasuk tata letak kursi serta keberadaan toilet di setiap gerbong seperti halnya armada yang beroperasi di Jepang.
Kemenhub perlu mengetahui posisi bangku menghadap ke mana serta nasib toilet pada kereta Jepang tersebut apakah akan dibongkar guna menambah kapasitas angkut penumpang. Kepastian mengenai detail final tersebut masih menunggu laporan lanjutan dari PT KAI.
Wacana mendatangkan KRL bekas dari Jepang ini mencuat akibat tingginya kepadatan penumpang atau over capacity serta adanya kendala teknis pada armada lokal buatan PT INKA yang sempat beroperasi namun harus ditarik kembali untuk menjalani perawatan.
Kendati memahami kebutuhan mendesak PT KAI dalam mempertahankan kapasitas layanan Commuter Line Jabodetabek, Kemenhub memastikan tidak akan berkompromi dengan standar keselamatan demi mengejar ketersediaan armada. Layanan yang diberikan kepada masyarakat harus berkeselamatan, nyaman, serta sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan dan diuji oleh Kemenhub.
Progres Pengadaan Trainset Baru
Allan menambahkan bahwa PT KAI tetap terikat pada komitmen pengadaan 35 trainset KRL baru serta dua unit retrofit yang telah disetujui sejak tahun 2023 dengan target operasional penuh pada tahun 2027. Dari total 35 trainset dalam periode pengadaan 2023 hingga 2027 tersebut, sebanyak 11 trainset merupakan impor kereta baru dari China yang seluruhnya sudah tiba di Indonesia dan beroperasi tanpa hambatan.
Selanjutnya, sebanyak 16 trainset merupakan produk dalam negeri yang dikerjakan oleh PT INKA. Dari jumlah tersebut, tujuh trainset sudah beroperasi, sementara sembilan trainset sisanya masih berada dalam tahap produksi.
Pihaknya bersama PT INKA menargetkan dua trainset akan beroperasi pada tahun ini, sedangkan sisa tujuh trainset lainnya akan dioperasikan pada tahun depan. Sementara itu, delapan trainset terakhir masih belum memiliki kontrak, dan Allan menyatakan belum dapat memastikan dari mana asal rangkaian kereta tersebut akan diperoleh.
Pihaknya terus mendorong PT KAI agar segera merealisasikan pengadaan delapan trainset tersebut mengingat kebutuhan di lapangan dan stasiun sangat mendesak untuk segera melayani masyarakat.
Pemerintah sendiri telah menyiapkan alokasi anggaran melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) serta subsidi Public Service Obligation (PSO) guna mendukung peremajaan dan penambahan armada kereta perkotaan tersebut. Pemerintah telah menggelontorkan dana PMN kepada PT KAI sebesar Rp2 triliun pada 2024, Rp1,8 triliun pada 2025, serta alokasi sebesar Rp1,5 triliun pada tahun ini.
Sumber: Finance - Detikcom








