EKONOMI

Ekspor Nikel RI Tembus Rp 472 Triliun hingga Agustus 2026

Ekspor Nikel RI Tembus Rp 472 Triliun hingga Agustus 2026

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat nilai ekspor nikel nasional telah menembus angka US$ 25,96 miliar atau setara Rp 472 triliun hingga Agustus 2026. Capaian tersebut menunjukkan efektivitas program hilirisasi dalam mendongkrak nilai tambah mineral di dalam negeri secara signifikan.

Lonjakan Nilai Ekspor dan Target Pemerintah

Koordinator Kerja Sama dan Investasi Minerba Ditjen Minerba Kementerian ESDM Yan Abrar mengungkapkan pencapaian tersebut dalam ajang Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF) di Sanur, Denpasar, Bali. Menurutnya, angka tersebut mendekati target US$ 26 miliar dan menegaskan keberhasilan kebijakan hilirisasi yang diterapkan pemerintah, seperti dilaporkan Liputan6.com.

Yan menjelaskan, nilai ekspor nikel Indonesia sebelum optimalisasi hilirisasi pada 2017 baru berada di kisaran US$ 3,3 miliar atau setara Rp 60 triliun. Angka itu kemudian melonjak hingga menyentuh US$ 40 miliar atau sekitar Rp 727,32 triliun pada 2025. Pemerintah sendiri mematok target nilai ekspor nikel mencapai setidaknya US$ 45 miliar atau Rp 818,2 triliun untuk sepanjang 2026.

Pengakuan Global dan Kelipatan Nilai Tambah

Produk olahan nikel Indonesia kini telah mendapatkan pengakuan resmi dari London Metal Exchange (LME) untuk kategori nikel kelas satu. Pengakuan internasional ini membuktikan bahwa hasil pengolahan dalam negeri mampu memenuhi standar kualitas yang ketat di pasar global.

Yan memaparkan bahwa proses pengolahan bertingkat memberikan kelipatan nilai tambah yang sangat besar dibandingkan penjualan bijih mentah. Nikel sulfat menghasilkan nilai tambah hingga 11,4 kali lipat, prekursor nikel melonjak sampai 19,4 kali lipat, katoda nikel meningkat hingga 37,5 kali lipat, dan sel baterai mencatat lompatan tertinggi hingga 67,7 kali lipat.

Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem industri dari hulu ke hilir guna mengoptimalkan potensi tersebut. Pemerintah menegaskan bahwa fokus utama Indonesia bukan sekadar memperbesar volume ekspor mineral, melainkan membangun ekosistem yang terintegrasi serta kompetitif dari sektor pertambangan hingga tahap pengolahan.

Mungkin Anda Suka