Penerapan kecerdasan buatan (AI) korporasi kini memasuki fase produksi kompleks yang menuntut infrastruktur terpadu untuk mencegah celah keamanan dan kerumitan operasional akibat penggunaan vendor terpisah. Menjawab tantangan tersebut, seperti dilaporkan Liputan6.com Tech News, Akamai meluncurkan dua solusi terkelola terbaru bernama Akamai Inference dan Akamai Agent Sandbox.
Solusi Terpadu Akamai
Kehadiran dua layanan ini dirancang untuk menyederhanakan arsitektur AI dengan memungkinkan perusahaan mengamankan seluruh beban kerja AI, mulai dari aplikasi dan agen AI hingga infrastruktur pendukung, dalam satu platform cloud terintegrasi. Langkah ini memperkuat portofolio Akamai Cloud yang telah mengamankan kontrak multi-tahunan senilai lebih dari USD 14 miliar atau sekitar Rp 254 triliun.
Chief Operating Officer sekaligus General Manager Akamai Cloud, Adam Karon, menyatakan bahwa fokus investasi AI global telah bergeser secara signifikan ke area inferensi. Perusahaan telah menjalankan strategi infrastruktur berdasarkan keyakinan bahwa inferensi AI akan menjadi fokus utama dan area investasi terbesar bagi korporasi. Ia menjelaskan bahwa Akamai Inference dan Akamai Agent Sandbox memperkuat lapisan inferensi serta eksekusi yang melengkapi infrastruktur AI menjadi ekosistem utuh yang dilindungi portofolio keamanan di setiap lapisannya, seperti disampaikan dalam keterangannya pada Senin (2/11/2026).
Fitur Akamai Inference dan Agent Sandbox
Melalui Akamai Inference, pengembang memperoleh akses terkelola ke berbagai model open-weight maupun model kustom melalui API yang kompatibel dengan OpenAI tanpa perlu merombak ulang basis kode yang sudah ada. Katalog awal layanan ini meluncurkan 12 pilihan model dari skala 8 miliar hingga 2,8 triliun parameter, termasuk NVIDIA Nemotron 3 Ultra, OpenAI gpt-oss-120b, serta Google Gemma 4, melalui skema pay-per-use maupun dedicated. Penanganan autentikasi, orkestrasi, dan penyimpanan terhubung langsung melalui lebih dari 4.350 lokasi edge global guna memangkas latensi.
Sementara itu, Akamai Agent Sandbox berfungsi sebagai ruang operasional terisolasi khusus bagi agen AI yang bertugas menjalankan perintah atau mengeksekusi kode secara mandiri. Memanfaatkan teknologi isolasi WebAssembly dari kerangka kerja Spin, sandbox ini membatasi komputasi, akses memori, serta koneksi keluar agar agen tidak menerobos sistem utama. Pengembang diberikan fleksibilitas dalam memilih arsitektur eksekusi, mulai dari microVM, kontainer berbasis kebijakan, hingga fungsi serverless baik di jaringan core maupun edge.
Penguatan Kinerja Komputasi
Kinerja komputasi platform ini turut ditopang melalui perluasan klaster hardware tingkat tinggi yang mengintegrasikan GPU NVIDIA RTX PRO 6000 Blackwell Server Edition untuk pemrosesan latensi rendah. Selain itu, terdapat klaster NVIDIA Blackwell Ultra dengan memori HBM3e 288 GB per GPU yang disiapkan khusus untuk beban kerja intensif seperti test-time scaling dan chain-of-thought reasoning, sekaligus mempersiapkan pembaruan pusat data untuk menyokong platform NVIDIA Vera Rubin di masa mendatang.
Senior Vice President Cloud Technology Akamai, Jon Alexander, menambahkan bahwa integrasi menyeluruh ini menghapus dilema antara kecepatan eksekusi dan kendali keamanan. Dengan menyatukan klaster CPU dan GPU berkepadatan tinggi, jaringan distribusi edge, serta fitur isolasi agen ke dalam satu benteng pertahanan, korporasi memiliki fondasi stabil untuk mengoperasikan AI skala besar tanpa mengorbankan privasi data internal.







