Perubahan iklim ternyata memicu dampak yang tidak biasa terhadap bentuk fisik Bumi. Sejumlah peneliti menemukan bahwa planet yang awalnya tidak sempurna ini perlahan mengalami perubahan bentuk dan semakin membulat akibat pemanasan global.
Dampak Mencairnya Es Kutub
Fenomena perubahan bentuk tersebut berkaitan langsung dengan mencairnya lapisan es di wilayah kutub Bumi. Kondisi ini memicu pergeseran pada permukaan padat planet, sehingga bagian kutub secara perlahan terangkat sementara tonjolan di sekitar garis khatulistiwa menyusut.
Berdasarkan laporan Live Science, temuan ini berfungsi sebagai salah satu indikator nyata dari dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Para peneliti menyatakan bahwa pemantauan tersebut mampu membantu memperkirakan seberapa besar pengaruh mencairnya es di kutub terhadap kondisi fisik planet secara keseluruhan.
Secara alami, Bumi tidak pernah menjadi bola yang sempurna karena rotasinya membuat planet ini sedikit pipih di kutub dan menggembung di khatulistiwa. Kendati demikian, studi terbaru mendapati bahwa Bumi semakin membulat dengan kecepatan yang terus meningkat akibat lelehan es kutub. Perubahan ini hanya terjadi pada bagian padat Bumi, sementara lautan tetap mempertahankan bentuk gembung di khatulistiwa.
Metode Penelitian dan Kecepatan Perubahan
Studi yang dipublikasikan pada 9 September dalam jurnal JGR Solid Earth memanfaatkan pengukuran langsung dari sistem satelit navigasi global (GNSS). Sistem ini dipakai untuk melacak perubahan bentuk planet sepanjang waktu, meski memiliki keterbatasan karena sedikitnya stasiun GNSS di Kutub Utara, Kutub Selatan, serta wilayah laut terpencil.
Christoforos Kotsakis selaku profesor geodesi di Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, merancang metode baru untuk menganalisis data GNSS agar permukaan planet terdeteksi secara lebih presisi. Analisis tersebut memperlihatkan bahwa wilayah kutub mengalami kenaikan permukaan dan tonjolan khatulistiwa menyusut sekitar 0,04 inci atau 1 milimeter per tahun dalam rentang waktu 2011 sampai 2015.
Besaran tersebut tergolong kecil apabila disandingkan dengan diameter Bumi di khatulistiwa yang mencapai 7.926 mil atau 12.756 kilometer. Namun, angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan kurun waktu 1997-2000, saat Bumi membulat dengan kecepatan 0,02 inci atau 0,5 milimeter per tahun.
Kecepatan perubahan bentuk Bumi yang semakin membulat itu bertambah sekitar 0,016 inci atau 0,4 milimeter per tahun di setiap dekade. Lelehan es di kutub mengurangi tekanan terhadap kerak Bumi sehingga permukaannya terangkat kembali, yang diibaratkan seperti adonan roti kembali mengembang seusai ditekan jari, seperti dilaporkan Kotsakis.
Di sisi lain, massa tambahan di sekitar khatulistiwa menekan kerak Bumi sehingga tonjolannya berkurang. Apabila bagian padat Bumi dan lautan dihitung secara bersamaan, planet ini justru menjadi semakin pipih sekitar 0,03 inci atau 0,8 milimeter per tahun akibat air laut yang semakin menggembung di khatulistiwa dari perpindahan massa air kutub.
Selain GNSS, para periset turut mengamati perubahan bentuk Bumi lewat pengukuran medan gravitasi yang dapat berubah mengikuti distribusi massa wilayah. Kotsakis menjabarkan bahwa hasil pengukuran GNSS dan medan gravitasi tidak selalu menunjukkan pola yang seragam, menandakan perubahan bentuk fisik dan medan gravitasi Bumi tidak selalu bergerak beriringan.







