Daftar Isi
Aktivitas jual beli di Pasar Induk Cipinang tetap berlangsung sibuk meski publik dihebohkan oleh isu peredaran beras oplosan. Mengandalkan relasi dan kepercayaan pelanggan, para pedagang eceran mengaku penjualan beras di warung mereka tidak mengalami kepanikan dan cenderung stabil.
Penjualan Stabil Berkat Kepercayaan Pelanggan
Suryadi, seorang pemilik warung sembako yang rutin berbelanja beras di Pasar Induk Cipinang, menyatakan bahwa isu tersebut tidak membuat para pembelinya panik. Menurut Suryadi, penjualan di warungnya tetap stabil dan belum ada pelanggan yang mempertanyakan kualitas beras karena sudah menjadi langganan tetap, seperti disampaikannya pada Kamis (29/10/2026).
Isu kecurangan pangan ini mencuat setelah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membongkar dugaan mafia pangan yang mengubah beras bersubsidi Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi beras premium di Jakarta Timur. Beras SPHP yang seharusnya dijual seharga Rp 12.500 per kilogram dipoles lalu dipasarkan sebagai beras premium dengan harga mencapai Rp 17.000 per kilogram.
Meski demikian, Yuni, pedagang sembako di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, mengaku tidak terdampak isu miring tersebut. Dalam dua hingga tiga hari sekali, Yuni masih rutin membeli beras karungan ukuran 50 kilogram merek Batik dan Palapa Solo untuk dijual eceran per liter kepada rumah tangga dan usaha katering, dengan menghabiskan belasan karung dalam sebulan.
Yuni menuturkan bahwa isu beras oplosan sempat menjadi perbincangan dan membuat sebagian pembeli kemasan 5 kg merasa ragu. Untuk meyakinkan para pelanggan, Yuni memilih pendekatan personal dengan menjamin keamanan beras yang dijualnya, hingga akhirnya para pelanggan tetap membeli.
Kelesuan Pasar dan Faktor Daya Beli
Situasi berbeda terlihat di Pasar Induk Senen yang tampak lebih lengang dengan lorong-lorong kios beras yang sunyi. Ivan, seorang pedagang beras yang telah berjualan selama 40 tahun di pasar tersebut, merasakan kelesuan omzet yang drastis dalam beberapa bulan terakhir.
Ivan menilai penurunan penjualan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh isu beras oplosan, melainkan akibat melemahnya daya beli masyarakat secara luas. Konsumen perorangan yang biasanya membeli 25 kilogram kini mengurangi pembelian menjadi 10 kilogram, sementara pelanggan restoran memangkas konsumsi mingguan menjadi bulanan.
Terkait pengawasan, Ivan menyebutkan kiosnya pernah didatangi petugas dalam inspeksi mendadak sekitar enam bulan lalu. Pedagang saat itu diinstruksikan untuk mematuhi harga eceran tertinggi sebesar Rp 15.000 per kilogram.
Kiat Mengenali Beras Berkualitas
Untuk menghindari beras berkualitas buruk atau oplosan, Ivan menyarankan pembeli agar teliti memeriksa kondisi fisik beras, seperti memastikan butirannya tidak banyak yang patah serta bebas dari batu atau gabah. Sementara itu, Suryadi dan Yuni menekankan pentingnya mengenali tekstur beras melalui rabaan tangan untuk merasakan kehalusan dan kepulenannya, di samping membeli pada tempat langganan yang terpercaya.








