EKONOMI

China Panen Matahari, Tenaga Surya Salip Nuklir Global

China Panen Matahari, Tenaga Surya Salip Nuklir Global

Peta energi dunia mengalami perubahan besar seiring lonjakan tenaga surya yang dipimpin oleh China. Pada akhir tahun 2026, tenaga surya akan resmi melampaui tenaga nuklir sebagai sumber listrik kedua terbesar di dunia dan mengubah cara pandang seluruh negara terhadap energi.

Pertumbuhan Kapasitas Tenaga Surya

Kapasitas tenaga surya mencatat pertumbuhan luar biasa hingga 2.700 kali lipat dalam kurun waktu 26 tahun terakhir. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, porsi listrik dari tenaga nuklir hampir tidak menunjukkan perubahan selama puluhan tahun. Di penghujung tahun ini, tenaga surya menyumbang sekitar 10 persen dari total listrik global dan menyalip posisi tenaga nuklir.

China menjadi motor utama transformasi ini dengan membangun pabrik serta memasang panel surya dalam skala masif, yang membuat biaya pembuatannya turun drastis. Di saat yang bersamaan, pembangunan reaktor nuklir baru di berbagai negara maju justru terkendala biaya tinggi yang terus merangkak naik, membuat tenaga surya jauh lebih terjangkau dibanding reaktor nuklir maupun pembangkit listrik batu bara.

Menurut pakar kebijakan energi dari Universitas Oxford, Jan Rosenow, surya kini menjadi mesin utama peralihan energi dunia. Tantangan saat ini bukan lagi mencari sumber energi alternatif, melainkan menyesuaikan jaringan listrik agar siap menampung pasokan energi yang melimpah.

Peluang Besar untuk Indonesia

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, tenaga surya menawarkan jalan keluar untuk melepaskan diri dari ketergantungan impor bahan bakar fosil. Letak geografis Indonesia di garis khatulistiwa memberikan keuntungan limpahan sinar matahari sepanjang tahun untuk membangun kemandirian energi.

Pemanfaatan energi surya yang murah berpotensi menurunkan biaya hidup masyarakat serta menekan laju inflasi. Selain itu, wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik dapat memanfaatkan panel surya mandiri, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk beralih menjadi pengekspor energi bersih.

Realisasi pemanfaatan energi surya di Indonesia saat ini masih berada di angka 1,49 Gigawatt (GW), sangat kecil dibandingkan potensi teoritis yang mencapai 3.294 GW. Pemerintah menetapkan target ambisius pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt dalam sepuluh tahun ke depan untuk mendorong penggunaan energi bersih.

Mungkin Anda Suka