UMUM

Ahli Meteorologi Ungkap Proses Pembentukan Puting Beliung Padalarang

Ahli Meteorologi Ungkap Proses Pembentukan Puting Beliung Padalarang
Daftar Isi
  1. Analisis Satelit dan Suhu Puncak Awan
  2. Dinamika Angin dan Topografi Kompleks
  3. Dampak Kerusakan di Padalarang

Sejumlah ahli meteorologi mengungkap proses di balik peristiwa angin puting beliung yang merusak ratusan rumah di wilayah Padalarang, Jawa Barat, pada Senin (26/10). Fenomena cuaca ekstrem ini disebut dapat berkembang secara cepat dalam hitungan menit akibat interaksi atmosfer skala lokal.

Analisis Satelit dan Suhu Puncak Awan

Ketua Kelompok Kerja Bencana Hidrometeorologi Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Deni Septiadi, menjelaskan bahwa daya rusak cuaca ekstrem ditentukan oleh interaksi gerak vertikal, geser angin atau wind shear, serta vortisitas. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-8 dan medan angin ECMWF pada pukul 13.50-15.30 WIB, suhu kecerahan puncak awan dalam radius 20 kilometer dari Padalarang tercatat mencapai -72 derajat Celcius pada pukul 13.50 WIB.

Suhu tersebut kemudian turun mendekati -77 derajat Celcius pada pukul 14.50-15.10 WIB. Suhu kecerahan rata-rata dalam radius itu juga mengalami penurunan dari sekitar -42 derajat Celcius menjadi -62 derajat Celcius hanya dalam kurun waktu 20 menit. Menurut Deni, perubahan tersebut menunjukkan adanya perkembangan awan Cumulonimbus (Cb) matang dengan puncak yang sangat dingin.

Namun, Deni menyebutkan bahwa awan Cumulonimbus yang tinggi dan besar tidak serta-merta langsung menghasilkan puting beliung. Diperlukan faktor pendukung berupa ketidakstabilan atmosfer, gerakan udara vertikal, serta pembentukan rotasi atau vorticity.

Dinamika Angin dan Topografi Kompleks

Data angin ECMWF menunjukkan adanya perbedaan arah dan kecepatan aliran antara wilayah selatan Jawa Barat dan kawasan Bandung Raya. Kecepatan angin lapisan 925 hPa di perairan selatan mencapai 6-10 meter per detik, sementara wilayah daratan terpantau lebih lemah dengan pola pembelokan yang mengindikasikan zona pertemuan aliran dan geser angin.

Kondisi konvergensi massa udara tersebut mendorong udara hangat dan lembap naik ke atmosfer, mengalami kondensasi, dan melepaskan panas laten guna memperkuat arus naik atau updraft. Proses peregangan pusaran atau vortex stretching oleh arus naik yang kuat, ditambah aliran udara dingin keluar dari badai atau gust front, dapat memicu pembentukan pusaran lokal.

Deni menambahkan bahwa topografi Bandung Raya yang kompleks berpotensi memodifikasi dinamika atmosfer tersebut. Terkait kecepatan angin, angka 6-10 meter per detik dari data ECMWF merupakan angin lingkungan dan bukan kecepatan pusaran di permukaan, sementara kecepatan 100-160 kilometer per jam berpotensi merusak atap dan bangunan rentan, meski intensitas pastinya harus melalui survei lapangan.

Dampak Kerusakan di Padalarang

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat mencatat sebanyak 520 rumah warga mengalami kerusakan akibat bencana yang menerjang tiga desa di Kecamatan Padalarang. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung Barat, Yoga Ali Imbran, merinci bahwa ratusan rumah terdampak tersebar di Desa Padalarang sebanyak 398 unit, Desa Jayamekar 95 unit, dan Desa Kertajaya sebanyak 27 unit.

Di Desa Padalarang, kerusakan meliputi 139 rumah rusak ringan, 161 rumah rusak sedang, dan 98 rumah rusak berat. Desa Jayamekar mencatat 71 rumah rusak ringan dan 24 rumah rusak berat, sementara Desa Kertajaya mengalami sembilan rumah rusak ringan, empat rumah rusak sedang, serta 14 rumah rusak berat.

Selain permukiman penduduk, bencana angin puting beliung ini juga merusak sembilan fasilitas umum. Fasilitas publik yang terdampak meliputi masjid, madrasah, posyandu, kantor ketahanan pangan, dan bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dengan rincian tujuh bangunan di Desa Padalarang serta dua bangunan di Desa Kertajaya.

Mungkin Anda Suka