INTERNET

Pembayaran Ganti Rugi Kebocoran Data AT&T Rp2,7 Triliun

Pembayaran Ganti Rugi Kebocoran Data AT&T Rp2,7 Triliun
Daftar Isi
  1. Proses Klaim dan Jadwal Pembayaran Ganti Rugi
  2. Besaran Nilai Ganti Rugi yang Diterima Pelanggan
  3. Kronologi Insiden Kebocoran Data AT&T

Lebih dari 110 juta pelanggan AT&T mengalami pencurian informasi pribadi dalam dua insiden kebocoran data besar pada tahun 2019 dan 2024. Kasus tersebut memicu gugatan class action yang menghasilkan kesepakatan ganti rugi sebesar USD177 juta (sekitar Rp2,7 triliun).

Proses Klaim dan Jadwal Pembayaran Ganti Rugi

Gugatan tersebut menuding AT&T gagal melindungi data pelanggan secara optimal serta lambat dalam memberikan pemberitahuan terkait insiden siber. Meskipun tidak mengakui adanya kesalahan, perusahaan setuju membayarkan kompensasi kepada para anggota kelas penyelesaian, seperti dilansir CNET.

Batas waktu pengajuan klaim telah ditutup pada Desember lalu, namun proses penyelesaian membutuhkan waktu panjang untuk administrasi, biaya hukum, serta distribusi informasi kepada jutaan anggota. Lebih dari 4,9 juta pelanggan yang memenuhi syarat telah mengajukan klaim mereka.

Keputusan akhir masih menunggu potensi banding dari AT&T hingga 2 Maret, di mana pengadilan memiliki waktu 10 hari untuk mengeluarkan persetujuan final jika tidak ada banding. Pembayaran akan disalurkan secara elektronik maupun melalui pos dalam kurun waktu 60 hari setelah persetujuan tersebut, yang berarti dana berpotensi diterima para pemohon pada awal 2027.

Besaran Nilai Ganti Rugi yang Diterima Pelanggan

Pelanggan yang mengajukan klaim valid serta menyertakan dokumentasi kerugian finansial berhak menerima kompensasi hingga USD7.500 atau sekitar Rp117 juta, bergantung pada kelas insiden yang dialami. Untuk insiden pelanggaran data pertama pada 2019, individu yang nomor Jaminan Sosialnya (Social Security number) dicuri dan bisa membuktikan kerugian finansial berhak mendapat cek hingga USD5.000.

Sementara itu, korban dari insiden pelanggaran data 2024 yang membuktikan kerugian finansial berhak memperoleh cek senilai hingga USD2.500. Pelanggan yang terdampak oleh kedua insiden tersebut dan memiliki dokumentasi lengkap berhak menerima hingga USD7.500.

Kendati demikian, mayoritas pemohon yang jumlahnya melebihi 3,7 juta orang tanpa menyertakan dokumentasi kerugian akan menerima pembayaran jauh lebih rendah melalui sistem distribusi berjenjang. Pembayaran tunai bertingkat ini berkisar antara USD6,50 hingga USD40 dan dibayarkan secara proporsional berdasarkan sisa dana alokasi penyelesaian secara keseluruhan, di mana seluruh nominal tersebut masih bersifat estimasi dan belum dijamin.

Kronologi Insiden Kebocoran Data AT&T

Pelanggaran data 2019 berdampak pada 65,4 juta mantan pelanggan serta 7,6 juta pemegang akun aktif, yang mengekspos informasi sangat sensitif seperti nomor Jaminan Sosial, tanggal lahir, serta nama lengkap. Kebocoran tersebut memaksa AT&T mengambil langkah drastis dengan mereset kata sandi setiap pelanggan yang terdampak.

Insiden kedua pada 2024 memiliki cakupan lebih luas yang memengaruhi hampir 109 juta pelanggan nirkabel, meskipun informasi yang diakses tidak begitu sensitif. Peretas ilegal mengakses data catatan panggilan dan teks, stempel waktu, serta lokasi menara seluler yang disimpan AT&T sejak 2022.

Kelompok peretas UNC5537 mengaku bertanggung jawab atas serangan 2024 sebagai bagian dari aksi peretasan basis data Snowflake yang menyasar lebih dari 160 perusahaan. Kelompok tersebut terafiliasi dengan ShinyHunters, sindikat peretas terkenal yang sering menargetkan korporasi besar penyimpan data pelanggan, dan dua orang telah ditangkap terkait kasus ini.

Bagi para pemohon klaim yang memerlukan informasi lebih lanjut atau pembaruan status, administrator penyelesaian dapat dihubungi melalui situs web telecomdatasettlement.com atau melalui sambungan telepon di nomor 833-890-4930.

Mungkin Anda Suka