Daftar Isi
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, melaporkan kepada Presiden bahwa ketersediaan bahan bakar minyak nasional berada dalam kondisi aman dan mencukupi. Pasokan BBM nonsubsidi dipastikan melampaui standar minimum yang ditetapkan secara nasional.
Kondisi Cadangan Energi
Bahlil menjelaskan bahwa ketahanan persediaan BBM bersubsidi jenis Biosolar dan Pertalite berada di kisaran 16 hingga 18 hari. Sementara itu, ketersediaan untuk BBM nonsubsidi serta jenis lainnya berada di atas posisi 20 hari.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Jumat, 23 Oktober 2026, Bahlil merinci cadangan BBM RON 90 tersebut di hadapan Presiden Prabowo. Selain bahan bakar minyak, ketersediaan LPG nasional tercatat berada di atas rata-rata 13 hari dengan cadangan energi komoditas lain melampaui 20 hari.
Penanganan Antrean di Bali dan Solusi Distribusi
Pemerintah turut mengambil langkah cepat untuk mengatasi kendala antrean pengisian bahan bakar yang sempat terjadi di Bali. Keterlambatan kedatangan kapal pengangkut dari wilayah Jawa sebelumnya sempat menekan ketahanan stok lokal hingga menyisakan 3 sampai 4 hari.
Pihaknya mengerahkan penguatan armada serta menambah pasokan energi ke Pulau Dewata sehingga ketahanan stok di sana melonjak menjadi 11 hingga 12 hari, dan antrean kendaraan di SPBU berangsur terurai. Koordinasi intensif antara Direktorat Jenderal Migas dan BPH Migas dilakukan untuk menargetkan ketahanan cadangan di Bali naik hingga 15 hari.
Saat meninjau langsung ke lokasi, Bahlil menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memperlancar proses distribusi nasional agar gangguan serupa tidak terulang kembali.
Mitigasi Hambatan Cuaca dan Kemandirian Solar
Pemerintah juga memetakan hambatan logistik di daerah lain yang dipicu oleh faktor cuaca serta kondisi geografis, seperti pendangkalan sungai di Kalimantan dan wilayah Asmat di Papua yang menghambat laju kapal berukuran besar.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina mengalihkan sebagian skema pengiriman melalui jalur darat serta mengoperasikan armada kapal yang lebih kecil. Penyesuaian armada serupa juga diterapkan untuk mengamankan distribusi di sejumlah titik wilayah Sulawesi dan Sumatra.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil menambahkan bahwa Indonesia saat ini telah mampu memenuhi seluruh kebutuhan Solar secara mandiri tanpa memerlukan impor. Pemerintah tetap memperketat pengawasan jadwal kedatangan kapal serta kesiapan armada guna menjamin kelancaran pasokan energi di seluruh tanah air.
Sumber: Liputan6.com Bank






