Sebuah perusahaan rintisan biosains asal Amerika Serikat, Radical Numerics, menyatakan telah menyuntikkan virus rancangan kecerdasan buatan (AI) ke dalam tubuh manusia untuk pertama kalinya. Tindakan medis ini merupakan bagian dari rangkaian terapi pengobatan guna menanggulangi infeksi bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik.
Terapi Fag Berbasis AI
Berdasarkan laporan yang dipublikasikan pada situs web perusahaan seperti dikutip dari Inet – Detikcom, virus tersebut dikembangkan menggunakan model AI yang diberi nama Omnii-1. Kategori virus yang diciptakan ini disebut sebagai phage atau fag, yang dimanfaatkan dalam metode medis bernama terapi fag.
Terapi fag merupakan sebuah prosedur pengobatan eksperimental yang memanfaatkan virus untuk disuntikkan kepada pasien penderita infeksi parah demi menyerang bakteri merugikan. Sasaran utama dari metode ini adalah membasmi bakteri tanpa merusak atau menginfeksi sel-sel tubuh manusia.
Model AI buatan Radical Numerics tersebut bertugas merancang fag secara spesifik guna menghadapi infeksi bakteri yang tengah diderita oleh pasien. Inovasi fag ciptaan AI ini untuk pertama kalinya berhasil disuntikkan kepada pasien manusia.
Pihak Radical Numerics menyampaikan bahwa metode pendekatan yang bersandar pada teknologi AI ini mampu menciptakan fag secara instan dan sesuai permintaan kebutuhan pasien. Hal tersebut diyakini mampu membuat keseluruhan proses pengobatan berjalan lebih cepat.
“Dalam penggunaan klinis pertama di dunia untuk fag yang dirancang oleh AI, desain yang dihasilkan oleh Omnii-1 telah diberikan kepada seorang pasien dengan infeksi bakteri yang kebal terhadap antibiotik melalui jalur penggunaan atas dasar kemanusiaan dan dipimpin oleh dokter,” demikian pernyataan Radical Numerics dalam laporannya seperti dikutip dari The Independent, Minggu (25/10/2026).
“Tonggak pencapaian ini menandai langkah awal menuju penerapan desain genom berbasis AI ke dalam terapi yang terpersonalisasi,” lanjut pernyataan tersebut.
Sorotan Media dan Rencana Masa Depan
Di sisi lain, media The New York Times menemukan sejumlah kejanggalan dari laporan yang dipublikasikan oleh Radical Numerics. Perusahaan tersebut dilaporkan tidak membeberkan detail informasi secara spesifik mengenai pelaksanaan uji coba klinis maupun hasil akhirnya.
Selain itu, identitas dari pasien serta dokter yang terlibat dalam prosedur tersebut juga tidak diumumkan ke publik ketika uji coba klinis sedang berlangsung. Laporan yang dibuat oleh Radical Numerics ini bahkan belum melalui tahapan penelaahan sejawat atau *peer-review*, serta tidak diterbitkan di dalam jurnal ilmiah resmi, melainkan hanya diunggah langsung pada situs web perusahaan.
Menanggapi hal tersebut, CEO Radical Numerics Eric Nguyen menyatakan bahwa timnya memiliki rencana untuk membagikan paparan informasi yang lebih mendalam setelah memperoleh izin persetujuan dari pasien terkait. Ia beralasan bahwa terdapat perjanjian kerahasiaan yang mengikat sehingga perusahaan belum dapat membuka detail informasi lebih lanjut untuk saat ini.
Sumber: Inet - Detikcom








