INTERNET

Investasi AI di Asia Pasifik Butuh Indikator ROI Terukur

Investasi AI di Asia Pasifik Butuh Indikator ROI Terukur

Gelombang investasi kecerdasan buatan di sektor bisnis kawasan Asia Pasifik menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Meski demikian, anggaran besar yang dikucurkan belum tentu sejalan dengan transformasi digital jika korporasi hanya berfokus pada kuantitas proyek alih-alih nilai bisnis yang dihasilkan.

Fokus pada Nilai Bisnis dan Parameter Keberhasilan

Commercial Leader Greater Asia Project Lenovo, Kumar Mitra, menyatakan bahwa keberhasilan penerapan AI pada tingkat enterprise sangat bergantung pada kejelasan indikator hasil bisnis. Perusahaan didorong untuk mengalihkan perhatian dari banyaknya eksperimen AI yang berjalan menuju pengukuran dampak nyata terhadap pertumbuhan organisasi, seperti dilaporkan Liputan6.com Tech News.

“Fokusnya perlu pada nilai bisnis yang dihasilkan AI, bukan jumlah proyek AI yang sedang berjalan. Pada akhirnya, nilai AI terletak pada kemauannya untuk menghasilkan dampak bisnis berkelanjutan, bukan sekadar pada penerapan teknologinya,” ujar Kumar dalam wawancara khusus dengan Tekno Liputan6.com pada Minggu (25/10/2026).

Berdasarkan riset pasar di Asia Pasifik, sekitar 88 persen organisasi mengharapkan imbal hasil investasi yang positif dari adopsi AI. Pada saat yang sama, mayoritas enterprise di kawasan tersebut berencana menaikkan anggaran belanja AI hingga 15 persen dalam satu tahun ke depan.

Tingginya ekspektasi ini mengharuskan para eksekutif perusahaan menetapkan ukuran keberhasilan secara presisi sejak awal. Kumar menjelaskan bahwa indikator utama keberhasilan investasi AI mencakup enam parameter penting, yakni peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, penghematan biaya, pertumbuhan pendapatan, peningkatan pengalaman pengguna, serta kualitas produk atau layanan.

Guna mencapai indikator tersebut, enterprise disarankan memetakan ulang portofolio workload mereka secara cermat. Proyek AI yang dinilai berpotensi memberikan dampak positif harus disaring secara ketat agar bisa dialihkan dari tahap uji coba ke skala operasional penuh di setiap divisi perusahaan.

Peran Infrastruktur Hybrid AI dan Teknologi Ramah Lingkungan

Pemilihan infrastruktur teknologi menjadi penentu utama agar investasi AI tidak berhenti sebagai proyek percontohan yang mahal. Penempatan workload pada lingkungan yang keliru, seperti menjalankan data sensitif tanpa kontrol on-premises atau memproses data berlatensi tinggi di cloud publik, dapat memicu pembengkakan biaya operasional serta risiko keamanan data.

Sebagai solusi fleksibel, Lenovo merekomendasikan model Hybrid AI untuk menghubungkan ekosistem komputasi korporasi dari perangkat personal, edge, data center, hingga cloud. Pendekatan terintegrasi ini memungkinkan perusahaan mengelola workload AI secara terdistribusi sesuai rasio biaya dan kinerjanya.

Untuk mendukung korporasi memaksimalkan ROI, infrastruktur modern juga dilengkapi teknologi ramah lingkungan. Salah satunya melalui pemanfaatan sistem pendinginan cair Neptune generasi ke-6 pada platform komputasi AI Lenovo yang diklaim mampu memangkas konsumsi daya secara drastis di tengah lonjakan beban kerja AI.

Melalui penggabungan strategi bisnis, tata kelola data, dan fondasi infrastruktur Hybrid AI yang skalabel, korporasi diharapkan mampu menyerap teknologi baru dengan cepat sekaligus mengamankan pertumbuhan bisnis yang terukur dan berkelanjutan.

Mungkin Anda Suka