Presiden Konami Digital Entertainment, Hideki Hayakawa, menyatakan pandangannya bahwa kecerdasan buatan atau AI tidak akan bisa menggantikan keterlibatan manusia dalam menciptakan game-game berkualitas tinggi. Walaupun teknologi tersebut menawarkan efisiensi, aspek utama dalam melahirkan karya kreatif tetap berada di tangan para kreator.
Faktor Manusia yang Tak Tergantikan
Hayakawa menyampaikan bahwa kemajuan teknologi dapat mendongkrak efisiensi proses produksi, namun unsur terpenting dalam menghadirkan video game yang inovatif dan menghibur tetaplah manusia. Menurutnya, seperti dilansir detikINET dari Video Games Chronicle pada Minggu (25/10/2026), interaksi antarmanusia di dalam tim pengembang mampu memunculkan gagasan segar serta ragam permainan baru yang sulit ditiru oleh sistem AI.
Kendati demikian, Hayakawa melihat perkembangan teknologi ini sebagai kesempatan besar guna menghadirkan bentuk pengalaman baru yang lebih beragam bagi para pemain. Ia menambahkan bahwa perusahaannya senantiasa memberikan dukungan secara sistematis supaya para kreator mampu memahami teknologi mutakhir, mengevaluasi risikonya secara tepat, serta memanfaatkannya dengan aman.
Tingkat Adopsi AI di Berbagai Studio Game
Di sisi lain, penggunaan AI sudah mulai mengambil peran dalam proses pembuatan game saat ini. Berdasarkan laporan VAIA yang melibatkan 101 petinggi studio game di Amerika Utara dan Eropa, sebanyak 97 persen perwakilan menyatakan telah memanfaatkan AI dalam berbagai bentuk, sementara 94 persen menggunakan teknologi tersebut pada setidaknya satu dari sembilan tahapan produksi.
Meski begitu, ketika diminta memberikan penilaian mengenai kedalaman integrasi AI dalam alur kerja dari skala satu sampai sepuluh, 52 persen responden memberikan angka tiga atau lebih rendah. Penelitian tersebut juga mencatat perbedaan tingkat adopsi antara kawasan Eropa dan Amerika Utara, di mana studio di Eropa mencatatkan pemanfaatan AI yang lebih mendalam pada sektor seni, aset, serta animasi dibanding Amerika Utara.
Pendiri sekaligus CEO Vivrato, Adam Boyes, mengatakan bahwa pemanfaatan AI oleh studio game sangat beragam, mulai dari otomatisasi pengujian hingga pembelajaran mesin untuk memprediksi pemain yang berhenti bermain. Menurut Boyes, isu utamanya saat ini bukan lagi perihal studio mana yang memakai AI, melainkan lokasi penerapannya, perubahan yang dihasilkan, serta kendala yang masih dihadapi oleh tim pengembang.
Sumber: Inet - Detikcom







