Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan dukungannya terhadap rencana Menteri Koordinator bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia untuk memprioritaskan pemanfaatan gas bumi bagi kebutuhan domestik. Kebijakan tersebut dinilai sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto agar sumber daya alam Indonesia dioptimalkan bagi kepentingan nasional.
Dukungan untuk Industri
Sarmuji menyampaikan dalam keterangan tertulis pada Jumat (23/10/2026), pihak kementerian akan berkoordinasi guna memastikan sektor industri memperoleh porsi pasokan yang memadai, khususnya di Jawa bagian barat dan Lampung yang tengah menghadapi kebutuhan mendesak.
Menurut Sarmuji, gas bumi memegang peranan vital bagi sektor manufaktur nasional, berfungsi baik sebagai sumber energi maupun bahan baku utama. Sektor pupuk dan petrokimia mengandalkan gas sebagai bahan baku, sementara pabrik keramik, kaca, dan baja memerlukan pasokan energi yang stabil serta terjangkau.
Realisasi Pasokan Gas
Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, realisasi pasokan gas melalui skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) di wilayah Jawa Bagian Barat baru mencapai kisaran 65,69 persen pada tahun 2025.
Sarmuji menilai masih terdapat celah yang harus dipenuhi sehingga setiap tambahan pasokan gas domestik menjadi momentum penting untuk meningkatkan daya saing manufaktur, mempertahankan tingkat utilisasi pabrik, serta mengamankan kesempatan kerja.
Kebijakan memprioritaskan gas untuk pasar domestik ini juga selaras dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang memuat pengurangan ekspor gas secara bertahap guna memperbesar alokasi dalam negeri.
Kemenperin akan terus bekerja sama dengan Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi, Kementerian ESDM, serta pihak terkait guna memastikan jaminan pasokan dan keterjangkauan harga energi bagi pabrik-pabrik yang beroperasi.
Sarmuji menegaskan program hilirisasi menuntut keberadaan industri yang tangguh yang didukung oleh kepastian energi dan bahan baku.
Sumber: Finance - Detikcom







