EKONOMI

BUMN Tekstil Bentukan Danantara Rencana Caplok Pabrik

BUMN Tekstil Bentukan Danantara Rencana Caplok Pabrik

Danantara berencana menyalurkan investasi sekitar Rp100 triliun untuk mendirikan badan usaha milik negara yang berfokus di sektor tekstil nasional. Langkah tersebut melibatkan pengambilalihan sejumlah pabrik untuk digabungkan menjadi satu kekuatan industri yang terintegrasi.

Koordinasi Kemenperin dan Danantara

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin koordinasi dengan Danantara terkait rencana pembentukan sektor usaha tersebut. Menurutnya, dana yang disiapkan bernilai sangat besar dan ditujukan untuk mengakuisisi beberapa fasilitas produksi sekaligus.

“Kami sudah koordinasi dengan Danantara. Danantara menginvestasikan cukup besar untuk pabrik tekstil, produksi tekstil ini, mungkin sekitar Rp 100 triliun, angka yang sangat besar, dan mengambil beberapa pabrik ya, beberapa pabrik diambil sekaligus,” ujar Sarmuji kepada detikcom, seperti dikutip Jumat (23/10/2026).

Sarmuji menerangkan bahwa setiap fasilitas produksi yang akan diambil alih mempunyai keunggulan spesifik yang nantinya bisa saling melengkapi. Penggabungan tersebut diharapkan mampu melahirkan industri tekstil dengan daya saing serta kapasitas produksi yang jauh lebih tangguh.

“Tentu kami berharap masing-masing pabrik ini kan sebenarnya punya keunggulan tersendiri. Keunggulan-keunggulan itu bisa digabungkan, bisa disinergikan menjadi keunggulan yang lebih besar lagi,” tuturnya.

Pemberdayaan Kembali Pekerja Terdampak PHK

Sarmuji memandang strategi penyatuan antarpabrik ini penting agar BUMN tekstil bentukan Danantara tersebut langsung mempunyai keunggulan kompetitif sejak hari pertama beroperasi. Terkait jadwal peluncuran, ia menginginkan realisasi proyek dapat berlangsung secepatnya.

Salah satu pertimbangan utama percepatan realisasi tersebut adalah kebutuhan mendesak untuk menampung kembali para tenaga kerja di sektor tekstil yang sebelumnya mengalami pemutusan hubungan kerja. “Mungkin secepatnya karena kebutuhan tenaga kerja yang di-layoff itu sebenarnya butuh naungan baru, dan sayang kalau mereka nggak segera dimanfaatkan,” ucap Sarmuji.

Mungkin Anda Suka