KEUANGAN

Tips Investasi Saham bagi Pemula saat IHSG Fluktuatif

Tips Investasi Saham bagi Pemula saat IHSG Fluktuatif
Daftar Isi
  1. Menyiapkan Strategi dan Kondisi Keuangan
  2. Memilih Saham Fundamental Baik dan Hindari FOMO
  3. Pendekatan Jangka Panjang bagi Pemula

Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang fluktuatif menuntut investor saham pemula agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Pergerakan pasar yang cepat dapat memicu kepanikan dan membuat investor mengambil keputusan berdasarkan emosi tanpa strategi yang matang.

Menyiapkan Strategi dan Kondisi Keuangan

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group (AAG) Indonesia Dandy menyampaikan bahwa orang yang mudah panik tetap bisa berinvestasi di pasar saham asalkan membekali diri dengan pengetahuan serta strategi yang tepat, seperti dilaporkan CNN Indonesia. Menurutnya, kepanikan umumnya muncul akibat meningkatnya rasa takut dan kurangnya pemahaman terhadap risiko investasi.

Untuk meredam kepanikan, Dandy menyarankan pemula agar menyesuaikan investasi dengan profil risiko, masuk dengan porsi kecil, menggunakan jangka waktu panjang, serta menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA). Sebelum membeli saham, pemula juga perlu menetapkan tujuan investasi, jangka waktu, batas kerugian, dan porsi alokasi dana.

Selain modal, Dandy mengingatkan agar investor memastikan kondisi keuangan pribadi sudah sehat sebelum memasuki pasar saham. Hal tersebut mencakup arus kas yang sehat, ketersediaan dana darurat, proteksi, serta menggunakan uang dingin yang memang disiapkan khusus untuk berinvestasi, bukan dana untuk kebutuhan sehari-hari.

Memilih Saham Fundamental Baik dan Hindari FOMO

Dalam menentukan pilihan saham, Dandy menyarankan agar investor memperhatikan fundamental perusahaan, seperti kemampuan mencetak keuntungan, perkembangan bisnis, serta harga saham yang belum terlalu mahal. Pemula disarankan memilih saham yang masuk dalam indeks saringan seperti LQ45, IDX30, Kompas100, dan Value30 guna menghindari saham gorengan.

Dandy juga menegaskan agar investor menghindari sikap fear of missing out (FOMO) yang kerap dipicu oleh unggahan keuntungan besar di media sosial. Investor diminta tetap berpegang pada strategi yang telah dirancang alih-alih mengikuti keputusan orang lain karena takut tertinggal.

Pendekatan Jangka Panjang bagi Pemula

Perencana Keuangan Andy Nugroho menilai sifat mudah panik mengindikasikan profil risiko konservatif atau moderat yang kurang sesuai dengan pasar saham agresif jika dipakai untuk trading. Kendati demikian, karakter tersebut tetap bisa berinvestasi saham melalui pendekatan jangka panjang selama tiga hingga lima tahun atau lebih, serta mengharapkan pembagian dividen tahunan.

Andy menyarankan pemula untuk mengalokasikan dana maksimal 30 persen dari modal yang dimiliki untuk investasi pertama, dan melakukan penambahan secara bertahap. Ia juga menekankan pentingnya memilih saham unggulan yang likuid dan masuk dalam kategori seperti LQ45 atau IDX100, serta menghindari godaan grafik keuntungan instan.

Terakhir, Andy mengingatkan agar investor menjauhi sikap FOMO agar tidak mudah terbawa arus pihak-pihak yang sedang mempermainkan harga saham di pasaran. Ia menyarankan agar setiap investor selalu melakukan riset mandiri sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual saham.

Mungkin Anda Suka