Daftar Isi
Para pengguna platform Binance melakukan penarikan dana massal mencapai US$3,64 miliar atau sekitar Rp66 triliun yang setara dengan 2,1 persen dari total aset bursa pada Minggu waktu setempat. Aksi tarik dana ini terjadi tidak lama setelah bursa kripto terbesar di dunia tersebut mengaktifkan kembali layanannya menyusul serangan peretas asal Korea Utara pada pekan sebelumnya.
Stabilitas Penarikan dan Sanggahan Data DefiLlama
Manajemen Binance melaporkan bahwa gelombang penarikan dana berangsur stabil setelah sempat melonjak tajam pada awal pembukaan layanan, sementara volume deposit pengguna tetap berada di level yang signifikan. Melalui laporan Reuters, pihak Binance membantah angka penarikan yang dirilis oleh platform analisis blockchain DefiLlama sebesar US$5,81 miliar atau sekitar Rp105 triliun. Menurut pihak Binance, data tersebut tidak memperhitungkan arus dana yang disetorkan ke hot wallet internal perusahaan sehingga dinilai kurang akurat.
Binance membuka kembali fitur penarikan secara bertahap dengan memprioritaskan permintaan pengguna, mencakup 15 aset kripto utama seperti Bitcoin, Ether, Dogecoin, USDC, dan USDT. Manajemen mencatat bahwa sekitar 5 persen sisa aset yang dicuri merupakan token dengan likuiditas rendah sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk pengadaannya di pasar. Secara keseluruhan, Binance mengklaim telah mengganti 95 persen dari total aset yang dicuri senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun.
Keterlibatan Peretas Korea Utara dan Respons Pemerintah
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat secara resmi menuding kelompok peretas asal Korea Utara, TraderTraitor, sebagai dalang di balik serangan siber tersebut. Berdasarkan temuan FBI, anggota unit siber tersebut mengonversi aset curian ke dalam bentuk Ether dan diprediksi akan terus melakukan pencucian uang melalui teknologi blockchain. Analisis dari TRM Labs dan Chainalysis turut memperkuat dugaan tersebut karena pola serangan berlangsung sangat cepat dalam kurun waktu sekitar 20 menit pada Kamis malam, menyerupai pola peretasan Korea Utara sebelumnya.
Di sisi lain, pemerintah Pyongyang secara konsisten membantah keterlibatan unit sibernya dalam aksi spionase maupun pencurian keuangan internasional. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan sikap skeptis mengenai tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa pemerintahannya belum mengetahui pasti pelaku utamanya dan akan membahas langsung masalah tersebut jika terbukti melibatkan Korea Utara.
Komitmen Penggantian Kerugian dan Apresiasi Pendiri Binance
Binance berkomitmen penuh menanggung seluruh kerugian pengguna dengan menyisihkan dana internal sebesar US$6,34 miliar. Untuk pengadaan token pengganti, perusahaan memanfaatkan 50 persen dari total dana perlindungan Secure Asset Fund for Users senilai US$1 miliar yang merupakan cadangan Bitcoin untuk insiden keamanan, serta menyerap kas internal dan Futures Insurance Fund, dengan janji akan segera memulihkan dana SAFU tersebut secara utuh.
Co-CEO Binance, Richard Teng, menyebut serangan ini sangat kompleks karena peretas memanfaatkan laptop insinyur perusahaan yang telah terkompromi serta memasang perangkat lunak jahat untuk menghapus jejak digital guna menyulitkan investigasi. Imbas dari skandal ini sempat memicu penurunan tajam pada harga berbagai aset kripto sebelum akhirnya kembali stabil berkat jaminan ganti rugi dari Binance.
Pendiri Binance, Changpeng Zhao, menyampaikan apresiasi tinggi kepada aparat penegak hukum Amerika Serikat melalui platform X atas dukungan cepat dalam melacak dan membekukan aset yang dicuri. Binance sendiri merupakan bursa kripto terbesar di dunia yang melayani lebih dari 335 juta pengguna terdaftar secara global dengan total aset kelolaan mencapai US$171 miliar per 28 Oktober.







