EKONOMI

Harga BBM Naik, Laba ExxonMobil Melesat di Kuartal III

Harga BBM Naik, Laba ExxonMobil Melesat di Kuartal III

Perusahaan energi asal Amerika Serikat, ExxonMobil, mencatatkan lonjakan laba yang signifikan pada kuartal III seiring dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kinerja positif ini diraih di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, kawasan Teluk Persia, serta konflik Rusia-Ukraina yang mengguncang pasar energi global.

Pendapatan Hilir dan Kinerja Operasional

Gangguan pada kapasitas produksi BBM dunia yang sempat memicu kelangkaan pasokan diesel justru memberi keuntungan bagi ExxonMobil. Lonjakan margin penyulingan mendorong pendapatan hilir yang disesuaikan meroket hingga 120 persen dibanding kuartal sebelumnya, mencapai US$9 miliar atau setara Rp163,32 triliun (dengan asumsi kurs Rp18.147 per dolar AS).

Di sisi lain, pendapatan hulu migas yang disesuaikan tercatat sebesar US$7,3 miliar atau Rp132,47 triliun, mengalami penurunan 20 persen secara kuartalan karena harga minyak mentah acuan Brent relatif lebih rendah. Adapun produk khusus menyumbang laba disesuaikan sebesar US$1,3 miliar atau Rp23,59 triliun, naik 32 persen dari kuartal II, dengan total volume produksi stabil pada angka 4,5 juta barel setara minyak per hari.

Mengenai capaian tersebut, CEO ExxonMobil Darren Woods menyampaikan komitmen perusahaan dalam menjaga pasokan energi. “Kami terus berupaya mengatasi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi global, dengan memanfaatkan skala, integrasi, dan kemampuan teknis yang tak tertandingi,” kata Woods seperti dikutip Reuters dari detikcom, Sabtu (31/10/2026).

Kinerja Melampaui Estimasi Analis

Secara akumulatif, ExxonMobil mengantongi total pendapatan yang disesuaikan sebesar US$17,5 miliar atau Rp317,57 triliun selama kuartal III-2026. Angka tersebut melampaui proyeksi konsensus analis Wall Street yang berada di kisaran US$16,6 miliar atau Rp301,24 triliun. Laba per saham disesuaikan juga mencatatkan angka US$4,23 atau Rp76.761 per lembar, di atas ekspektasi rata-rata pasar sebesar US$4,08 atau Rp74.039 per lembar.

Atas hasil tersebut, raksasa energi ini menyalurkan dividen sebesar US$4,3 miliar atau Rp78,03 triliun dan melangsungkan aksi pembelian kembali saham (buyback) senilai US$5,1 miliar atau Rp92,54 triliun. ExxonMobil juga telah menjadwalkan program buyback saham senilai US$20 miliar atau Rp362,94 triliun pada tahun 2027, senilai dengan target alokasi pada 2026.

Fasilitas kilang ExxonMobil di kawasan Pantai Teluk AS dilaporkan berhasil membukukan volume produksi diesel harian tertinggi kedua sepanjang sejarah perusahaan, serta beroperasi dengan tingkat utilitas unit minyak mentah mencapai 100 persen.

Mungkin Anda Suka