PENDIDIKAN

Google Paksa Sekolah Pilih Antara Mesin Pencari dan AI

Google Paksa Sekolah Pilih Antara Mesin Pencari dan AI
Daftar Isi
  1. Perubahan Kebijakan dan Tekanan Publik
  2. Dominasi Google di Lingkungan Sekolah
  3. Tanggapan Para Ahli Pendidikan
  4. Tanggapan Google dan Opsi Lain

Google mengumumkan akan mematikan produk kecerdasan buatan secara otomatis untuk akun pelajar tingkat K-12, dan mewajibkan administrator sekolah untuk mengaktifkannya secara manual. Kebijakan ini memicu dilema besar karena sekolah yang memilih menolak fitur kecerdasan buatan tersebut tidak akan bisa mengakses Google Search.

Perubahan Kebijakan dan Tekanan Publik

Pada bulan Agustus lalu, produk kecerdasan buatan milik perusahaan tersebut diaktifkan secara otomatis dalam Google Classroom, yaitu sistem manajemen pembelajaran gratis untuk siswa dari berbagai usia. Pengumuman yang disampaikan pada hari Selasa tersebut sekaligus membatalkan keputusan sebelumnya.

Sebelumnya pada bulan Oktober, sejumlah organisasi teknologi dan perlindungan anak melayangkan surat terbuka kepada 150 distrik sekolah di Amerika Serikat beserta jajaran pimpinannya. Dalam surat tersebut, mereka meminta agar distrik sekolah menonaktifkan Google Gemini AI pada perangkat sekolah dengan kesimpulan bahwa anak-anak berisiko mengalami bahaya.

Chris Phillips selaku wakil presiden dan manajer umum pendidikan di Google menyatakan dalam sebuah siniar bahwa keputusan ini diambil setelah mendengarkan masukan dari pihak sekolah, guru, para peneliti terkemuka, serta pembuat kebijakan.

Bagi akun pelajar yang tetap mengaktifkan Google Search, Gemini akan menghadirkan alat belajar baru bernama Guided Learning. Fitur interaktif ini dirancang untuk membantu siswa memecahkan masalah pekerjaan rumah secara bertahap alih-alih memberikan jawaban secara langsung. Bulan ini, program uji coba tersebut diluncurkan di sejumlah sekolah pilihan di Amerika Serikat guna mengumpulkan tanggapan sebelum disebarluaskan.

Dominasi Google di Lingkungan Sekolah

Berdasarkan unggahan blog Google pada tahun 2024, lebih dari 150 juta guru dan pelajar di seluruh dunia menggunakan Google Classroom serta Assignments. Survei New York Times pada tahun 2025 terhadap 20 distrik sekolah terbesar di Amerika Serikat menunjukkan bahwa Chromebook buatan Google dengan harga mulai dari 179 dolar Amerika Serikat merupakan perangkat paling umum di ruang kelas. Sekitar 80 persen guru melaporkan bahwa distrik sekolah mereka menyediakan Chromebook untuk para siswa, di mana mesin pencari bawaan pada perangkat tersebut adalah Google Search.

New York City Public Schools sebagai distrik sekolah publik terbesar di Amerika Serikat merupakan salah satu klien Google. Juru bicara lembaga tersebut mengarahkan tanggapan kepada unggahan media sosial X milik Wali Kota Zohran Mamdani. Dalam unggahan hari Selasa, Mamdani menyebutkan bahwa Google berusaha menggunakan kekuatan monopolinya untuk memaksa kecerdasan buatan masuk ke sekolah-sekolah publik.

Sementara itu, juru bicara Los Angeles Unified School District yang merupakan distrik terbesar kedua menyampaikan melalui surat elektronik bahwa pihaknya sedang meninjau pengumuman Google beserta implikasinya bagi sekolah, pendidik, dan siswa. Distrik tersebut meyakini bahwa teknologi berkembang termasuk kecerdasan buatan berpotensi meningkatkan pengajaran dan pembelajaran apabila diperkenalkan secara bijak, bertanggung jawab, serta memiliki pengamanan yang jelas.

Tanggapan Para Ahli Pendidikan

Ying Xu selaku profesor madya di Harvard Graduate School of Education sekaligus pendiri dan direktur Harvard Child-Centered AI Lab menuturkan melalui surel bahwa alat Guided Learning dari Google dapat meredam sebagian dampak negatif penggunaan kecerdasan buatan umum. Namun, ia menilai pertanyaan yang lebih mendalam adalah apakah siswa masih perlu belajar cara mencari informasi melalui mesin pencari tradisional.

Dalam penelitiannya, Xu menemukan bahwa pencarian informasi menggunakan mesin pencari tradisional melibatkan proses yang berbeda dibandingkan model kecerdasan buatan, mulai dari cara merumuskan kueri, mengevaluasi informasi, hingga memadukannya dari berbagai sumber. Ia merasa khawatir bahwa siswa akan kehilangan kesempatan melatih keterampilan pencarian informasi yang penting tersebut.

Jennifer L. Steele selaku profesor di Baker School of Education, American University, berpendapat bahwa tanggung jawab tetap berada di tangan sekolah untuk melindungi hak siswa belajar dari guru dan rekan sebaya di ruang kelas manusia. Menurutnya, masalah muncul ketika sekolah dan guru telanjur mengandalkan perusahaan teknologi untuk mengajarkan cara menggunakan alat kecerdasan buatan serta memahami kelebihan dan kekurangannya.

Tanggapan Google dan Opsi Lain

Menanggapi kritik mengenai pemadaman mesin pencari bagi sekolah yang menolak kecerdasan buatan, juru bicara Google merujuk pada unggahan perusahaan di X yang menyatakan bahwa sekolah dapat memilih untuk mengaktifkan Gemini, Gemini Notebook, atau Search secara terpisah. Kendati demikian, unggahan tersebut tidak membahas fakta bahwa mode kecerdasan buatan dan AI Overviews akan tetap aktif bersamaan dengan Google Search, sehingga sekolah tetap akan kehilangan akses mesin pencari jika menolak fitur kecerdasan buatan.

Tracy Pizzo Frey selaku mantan direktur pelaksana Google menulis di LinkedIn bahwa perusahaan sebenarnya memiliki pilihan untuk mengizinkan sekolah menonaktifkan AI Overviews, alih-alih mengambil akses pencarian dari para siswa. Mesin pencari DuckDuckGo misalnya, menyediakan layanan tanpa kecerdasan buatan yang secara otomatis menonaktifkan seluruh fitur tersebut dan menyaring gambar hasil buatan mesin.

Para ahli mengingatkan bahwa para pendidik tidak bisa mengandalkan platform teknologi untuk mengawasi diri mereka sendiri, dan sekolah harus merintis jalannya sendiri karena alat kecerdasan buatan kini telah menjadi bagian tetap. Tantangan utamanya adalah ketimpangan sarana di mana distrik yang lebih kaya memiliki sumber daya untuk beradaptasi, sementara sistem dengan pendanaan minim harus berjuang keras untuk mengikutinya.

Mungkin Anda Suka