Daftar Isi
Keputusan seorang miliarder asal Inggris yang terbang di kelas bisnis sementara anak-anaknya duduk di kelas ekonomi mencerminkan prinsip unik dalam mendidik keluarga. John Caudwell meyakini bahwa anak-anaknya boleh menikmati kehidupan yang nyaman, tetapi tidak boleh menganggap kemewahan sebagai kebutuhan pokok.
Prinsip Pengasuhan dan Latar Belakang
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Times of India pada Minggu (25/10/2026), Caudwell merupakan pendiri perusahaan telekomunikasi Phones 4u dan Singlepoint. Ia memiliki delapan anak dan kini membesarkan tiga anak balita bersama pasangannya, Modesta Vžesniauskaitė, yang merupakan mantan atlet balap sepeda Olimpiade.
Caudwell tumbuh di sebuah rumah sederhana di Stoke-on-Trent, Inggris, dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Ia tentu tidak ingin anak-anaknya mengalami kesusahan finansial yang sama, namun di sisi lain ia juga tidak mau memanjakan mereka dengan kemewahan berlebih.
Dalam wawancaranya bersama Business Insider, Caudwell menjelaskan bahwa waktu bersama keluarga selalu menjadi prioritas utama meskipun kesibukan bisnis kerap menyita perhatian. Ia selalu berusaha hadir dalam acara olahraga sekolah hingga momen penghargaan anak-anaknya. Bagi Caudwell, kehadiran penuh orang tua tidak akan pernah bisa digantikan oleh hadiah mahal.
Gaya Hidup Hemat dan Batasan Hadiah
Saat berlibur bersama keluarga, Caudwell bepergian menggunakan kelas bisnis, sedangkan anak-anaknya yang lebih kecil duduk di kelas ekonomi bersama sang ibu. Keluarga kaya raya ini bahkan tidak ragu menggunakan maskapai berbiaya rendah. Prinsip hemat ini juga diterapkan dalam urusan busana dengan memilih merek ritel terjangkau seperti Zara dan Primark alih-alih pakaian berlabel desainer ternama.
Caudwell mempertanyakan apakah membeli baju Gucci seharga 1.000 pound sterling atau sekitar Rp20 juta benar-benar membuat anak-anak lebih bahagia. Ia justru khawatir, membiasakan anak dengan barang mewah hanya akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang merasa berhak atas perlakuan istimewa, alih-alih bersyukur.
Pelajaran hidup tersebut juga terlihat saat perayaan Natal di mana ia pernah membelikan sangat banyak hadiah, tetapi anak-anaknya justru lebih asyik bermain dengan kardus pembungkusnya. Sejak saat itu, ia membatasi dua atau tiga hadiah saja per anak. Kebiasaan praktis juga diterapkan saat makan di restoran, di mana anak-anak yang lebih kecil diajarkan untuk berbagi porsi makanan agar tidak ada yang terbuang sia-sia.
Tanggung Jawab Finansial dan Kemandirian
Caudwell sadar kebiasaan hemat saja tidak otomatis membuat anak paham tanggung jawab keuangan, sehingga orang tua tetap perlu memberi pemahaman logis di balik keputusan membelanjakan, menabung, atau berbagi uang. Ia tetap membiayai kebutuhan pendidikan anak-anaknya hingga tuntas, namun secara tegas menolak mendanai gaya hidup foya-foya seperti pesta malam atau keluyuran di klub malam.
Dukungan finansial yang ia berikan selalu dikaitkan dengan upaya sang anak untuk mandiri sehingga anak-anaknya yang sudah dewasa kini meniti karier di berbagai bidang profesional. Bidang tersebut mulai dari psikoterapi, perbankan, properti, hingga industri musik.
Bagi Caudwell, membantu anak secara finansial bukan berarti menghapus seluruh tantangan hidup mereka karena dukungan orang tua berfungsi memberikan rasa aman, tetapi anak tetap harus berjuang dan meraih kesuksesan dengan keringat sendiri.
Sumber: Liputan6.com Bisnis







