INTERNET

Billboard di 5 Negara Diretas, Tampilkan Video Porno

Billboard di 5 Negara Diretas, Tampilkan Video Porno
Daftar Isi
  1. Kronologi Insiden di Berbagai Negara
  2. Celah Keamanan Sederhana
  3. Catatan Kasus Serupa dan Imbauan Pakar

Sejumlah papan iklan digital LED di Mesir, Malaysia, Brasil, serta diduga di Irak dan China mendadak menayangkan video pornografi secara bersamaan. Geng peretas di platform Telegram mengklaim bertanggung jawab atas operasi tersebut dan mengejek sistem keamanan pengelola yang dinilai sangat lemah.

Kronologi Insiden di Berbagai Negara

Insiden penayangan konten tidak senonoh ini memicu kehebohan di jalan-jalan utama di sejumlah negara. Di Mesir, layar elektronik raksasa di jalan tol 26th of July Axis, Giza, yang merupakan salah satu jalur tersibuk penghubung Kairo, menayangkan video porno yang ditumpangi teks “Leaked by: Ch, 19ylegal never and nivex” dan handle Telegram @LeakersGov. Layar tersebut dikelola oleh Al Arabia United, perusahaan joint venture media intelijen Mesir dan perusahaan Arab Saudi.

Sementara itu di Malaysia, Majelis Perbandaran Kluang, Johor, mengonfirmasi bahwa beberapa layar LED publik milik mereka diretas untuk menampilkan konten vulgar. Pihak berwenang langsung mematikan seluruh layar dan kepolisian membuka penyelidikan. Di Brasil, layar LED di jalan utama dekat BR-343 di Campo Maior, Piauí, turut menjadi korban di mana perusahaan pengelola, Ferreira & Ferreira Publicidade e Comunicação, segera mematikan peralatan dan melaporkannya ke polisi. Adapun di Irak dan China, kelompok peretas mengklaim berhasil membobol sistem layar di kedua negara ini, meski bukti independen masih terus dikumpulkan seperti dilaporkan detikINET pada Senin (2/11/2026).

Celah Keamanan Sederhana

Kelompok di balik saluran Telegram Leakers$ mengungkapkan kepada media The Cairo Report bahwa mereka tidak meretas fisik papan iklan satu per satu, melainkan mengeksploitasi celah keamanan pada perangkat lunak pengirim konten ke layar LED. Peretas menggunakan nama samaran Never, 19ylegal, CH, dan Nivex, serta mengidentifikasi ribuan sistem yang rentan hanya lewat pemindaian acak otomatis selama kurang lebih dua jam.

Perwakilan peretas menyatakan bahwa hal tersebut merupakan celah asli pada software yang bertanggung jawab mentransmisikan konten ke layar LED. Mereka menyebut operasi ini tidak serumit yang dibayangkan orang-orang karena perusahaan menghabiskan jutaan dolar untuk membangun infrastruktur tetapi meninggalkan layar LED dan jaringan iklan terhubung ke internet tanpa perlindungan dasar sama sekali. Kelompok tersebut menegaskan bahwa mereka tidak meminta uang tebusan, melainkan ingin membuktikan betapa rentannya infrastruktur publik yang terhubung ke internet.

Catatan Kasus Serupa dan Imbauan Pakar

Kasus peretasan billboard digital bukan pertama kalinya terjadi di dunia siber. Pada tahun 2022 di Brisbane, Australia, layar digital sempat menampilkan video vulgar selama beberapa menit sebelum dimatikan. Di Jakarta, Indonesia, pada tahun 2016, papan iklan digital atau videotron di kawasan Jakarta Selatan juga pernah diretas dan memutar video porno akibat ulah peretas yang memanfaatkan celah akses. Selain itu, di Baghdad, Irak, pada tahun 2023, seluruh layar iklan elektronik dimatikan setelah seorang teknisi meretas layar di Alun-Alun Uqba bin Nafeh akibat perselisihan finansial.

Para pakar siber mencatat bahwa banyak insiden peretasan billboard terjadi akibat pengelola lupa mengubah password bawaan dari pabrikan pada antarmuka web mereka. Lembaga Out of Home Advertising Association of America secara khusus telah mengeluarkan panduan keamanan yang mewajibkan pengelola untuk tidak mengandalkan default password.

Mungkin Anda Suka