Jakarta, CNBC Indonesia – Andrew Jones selaku penemu lokasi Bahtera Nuh sekaligus pendiri organisasi Noah’s Ark Scans mengungkapkan bahwa pekerjaan yang dilakoninya tidaklah mudah. Tantangan yang dihadapi bahkan mencakup ancaman pembunuhan terhadap dirinya.
Proses Perizinan dan Penelitian di Turki
Salah satu hambatan besar dialami ketika dirinya hendak melakukan penelitian di wilayah Turki. Jones menjelaskan bahwa ia harus memenuhi berbagai persyaratan ketat serta menggandeng pihak universitas serta profesor setempat guna memperoleh izin penggalian resmi.
Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, proses birokrasi tersebut memerlukan waktu hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya izin penggalian berhasil dikantongi pada awal tahun 2026. Selepas izin tersebut terbit, tim periset langsung bergerak cepat untuk menyusun persiapan serta melakukan penggalangan dana.
Tekanan dan Ancaman yang Diterima
Kendati izin telah resmi diterbitkan, tim peneliti justru harus menghadapi berbagai tekanan berat di lapangan. Profesor asal Turki yang turut serta dalam proyek penelitian tersebut dicap sebagai pengkhianat serta mendapat kecaman keras dari kelompok agnostik dan ateis.
Ancaman serupa juga dialami secara langsung oleh Jones. Rumah tempat tinggalnya kerap didatangi orang tak dikenal yang mengetuk pintu pada tengah malam sejak awal tahun 2026, bertepatan dengan keluarnya izin penelitian.
Jones bahkan mengaku telah menerima ancaman pembunuhan, meski motif di balik teror tersebut belum diketahui secara pasti. Ia menilai seluruh kekacauan tersebut mulai muncul ke permukaan setelah timnya mengumumkan bahwa izin riset telah resmi diperoleh.
Sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keamanan dirinya, Jones memilih untuk meninggalkan apartemen tempat tinggalnya dan pindah untuk tinggal bersama seorang teman. Di tengah berbagai teror dan cobaan yang terus berdatangan, Jones menegaskan bahwa ia sama sekali tidak memiliki niat untuk menghentikan proyek pencarian Bahtera Nuh tersebut.








