General Motors (GM) telah menyetujui denda penyelesaian sebesar 220 juta dolar AS atau sekitar Rp3,5 triliun kepada 35 negara bagian dan District of Columbia di Amerika Serikat. Kesepakatan ini mengakhiri gugatan hukum privasi terkait penjualan data pengemudi melalui program Smart Driver tanpa persetujuan konsumen.
Program Smart Driver sebelumnya ditawarkan oleh jaringan dealer GM sejak 2016 hingga 2024. Investigasi yang dirilis The New York Times pada 2024 mengungkap bahwa data riwayat dan kebiasaan berkendara konsumen dijual kepada perantara data dan dimanfaatkan oleh perusahaan asuransi untuk menetapkan tarif premi. Berdasarkan keterangan dari kantor Jaksa Agung New York, salah satu pemilik kendaraan bahkan mengalami kenaikan premi hingga 22 persen akibat laporan berkendara tersebut.
Menyusul sorotan publik atas praktik pengumpulan data yang dinilai melanggar privasi, GM menghentikan program Smart Driver pada tahun 2024. Pada 2025, GM juga menyepakati penyelesaian dengan Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat terkait data lokasi OnStar dan Smart Driver, yang mencakup larangan penjualan data pengemudi selama lima tahun.
Aturan Baru dan Transparansi GM
Jaksa Agung Maryland, Anthony G. Brown, menyatakan bahwa GM terbukti menjual data lokasi dan kebiasaan berkendara tanpa meminta izin kepada konsumen. Melalui kesepakatan hukum ini, GM diwajibkan untuk menghentikan praktik yang mementingkan keuntungan di atas privasi pelanggan.
Penyelesaian gugatan tersebut mengharuskan GM memperoleh persetujuan eksplisit dari konsumen sebelum mengumpulkan atau membagikan data lokasi maupun data berkendara. Dalam pernyataan tertulis melalui pos elektronik kepada CNET, juru bicara GM mengonfirmasi bahwa perusahaan telah menghentikan Smart Driver dan terus memperkuat praktik privasi mereka.
Kepada CNET, pihak GM menyampaikan bahwa mereka telah menyederhanakan serta memperbarui pernyataan privasi di Amerika Serikat. Selain itu, produsen otomotif tersebut telah menyediakan Pusat Privasi khusus bagi konsumen dan memperketat pengawasan internal terhadap pengelolaan data kendaraan terhubung.
Normalisasi Pengumpulan Data di Industri Otomotif
Praktik pengumpulan data pada kendaraan modern kini menjadi perhatian serius para pakar hukum dan keamanan siber. Pakar teknologi di CM Law sekaligus mantan penasihat hukum Cox Automotive, Peter Cassat, menjelaskan bahwa pengumpulan dan penjualan data berkendara telah menjadi hal yang umum di industri otomotif.
Cassat menilai kesepakatan senilai 220 juta dolar AS yang melibatkan GM ini akan menjadi acuan bagi para regulator dan jaksa agung di berbagai negara bagian untuk memperketat pengawasan terhadap pabrikan lain. Ia menyarankan agar produsen mobil meminta izin secara terpisah untuk setiap fitur menggunakan bahasa yang jelas, bukan sekadar meminta pembeli mencentang kotak persetujuan.
Sementara itu, arsitek keamanan senior dari perusahaan keamanan data AI Protegrity, Clyde Williamson, mengingatkan bahwa mobil modern membawa risiko privasi yang serupa dengan ponsel pintar, namun sering kali kurang mendapatkan perhatian dari segi keamanan siber. Williamson menyarankan para pengguna kendaraan untuk menolak opsi pembagian data yang tidak diperlukan, rutin memeriksa Laporan Pengungkapan Pelanggan, serta mematikan modem bawaan kendaraan jika opsi tersebut tersedia.







