Tiga spesies jangkrik tanpa sayap yang belum pernah tercatat sebelumnya oleh ilmuwan berhasil ditemukan di kawasan hutan hujan pulau Kalimantan. Spesimen serangga baru tersebut kini disimpan sebagai bagian dari Koleksi Referensi Zoologi Museum Sejarah Alam Nasional Lee Kong Chian di Singapura.
Identifikasi Tiga Spesies Baru
Para peneliti bernama Qi Zhu dan Ming Kai Tan melakukan identifikasi terhadap ketiga temuan itu berdasarkan spesimen yang dikumpulkan dari wilayah Sarawak serta Sabah di bagian Malaysia. Ketiga serangga ini digolongkan ke dalam kelompok jangkrik unta atau jangkrik gua tanpa sayap, yang masing-masing dinamai secara ilmiah sebagai Paradiestrammena cordata, Paradiestrammena aquilina, dan Paradiestrammena sabahensis, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.
Spesies pertama yaitu P. cordata dijumpai pada kawasan dekat Bau, Sarawak, dengan penamaan yang didasarkan pada bentuk alat kelamin jantan menyerupai jantung. Serangga ini memiliki warna cokelat kekuningan polos tanpa corak serta ukuran tubuh jantan sekitar 8,65 milimeter.
Berikutnya adalah P. aquilina yang ditemukan di Sepilok, Sabah, di bawah tumpukan batang kayu lapuk. Penamaan spesies ini merujuk pada bahasa Latin yang berarti elang karena bentuk alat kelaminnya mirip burung elang membentangkan sayap, dengan tubuh bercorak cokelat-hitam dan ukuran jantan berkisar 8,10 sampai 8,85 milimeter. Pengamatan langsung menunjukkan bahwa serangga tersebut hidup secara berkelompok di tanah berlempung pada area lereng bukit di bawah rimbunan hutan.
Ukuran dan Sebaran Genus Paradiestrammena
Spesies terakhir yakni P. sabahensis tercatat sebagai yang paling besar di antara ketiganya setelah ditemukan di Cekungan Maliau pada ketinggian 646 meter di atas permukaan laut. Ukuran tubuh jantan mencapai 11,8 milimeter sementara betina berukuran 10,8 milimeter, dengan ciri fisik mirip P. aquilina namun berbadan lebih besar serta memiliki bentuk alat kelamin segitiga yang khas.
Sejarah penamaan genus Paradiestrammena sendiri telah berlangsung panjang dan mengalami berbagai perubahan semenjak pertama kali dibentuk pada tahun 1919. Perpindahan nama spesies yang dilakukan para ahli selama puluhan tahun membuat penemuan ketiga jenis baru ini dapat melengkapi serta memperjelas peta hubungan kekerabatan di antara mereka.
Jumlah total spesies yang masuk ke dalam kelompok ini kini tercatat sebanyak 16 jenis dengan wilayah sebaran meliputi kawasan Asia Tenggara, bagian selatan China, hingga Jepang. Seluruh spesimen asli dari penemuan tersebut kini diamankan pada dua lokasi berbeda, yaitu Pusat Penelitian Hutan di Sepilok, Sabah, serta Koleksi Referensi Zoologi di Singapura, guna memudahkan para peneliti dunia melakukan perbandingan bukti fisik.






