Daftar Isi
Peta pemantauan dari Climate Impact Lab menunjukkan fenomena Super El Nino berpotensi memicu lonjakan angka kematian akibat suhu panas ekstrem di berbagai negara seiring meningkatnya anomali cuaca di Samudra Pasifik. Indonesia masuk dalam daftar lima negara dengan perkiraan jumlah korban jiwa tertinggi akibat dampak tersebut.
Dampak Suhu Panas Ekstrem Global
Melalui alat pemantau bernama El Nino Heat Mortality Tracker, tercatat lebih dari 373 ribu kematian tambahan diproyeksikan terjadi pada periode Oktober hingga Maret. Nigeria, India, dan Brasil diperkirakan menyumbang hingga sepertiga dari total angka kematian tersebut.
Peningkatan suhu ini dipicu oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 Pasifik Timur-Tengah, yang tercatat mencapai 3,4 derajat Celsius lebih hangat dari rata-rata normal pada pekan 18-24 Oktober. Berdasarkan data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), fenomena ini berpotensi menyebabkan suhu melonjak lebih dari enam kali lipat dibandingkan El Nino biasa pada periode November hingga Januari.
Proyeksi Angka Kematian dan Negara Terdampak
Guna mengukur besarnya dampak, tim peneliti membandingkan perkiraan kematian akibat panas dari fenomena El Nino saat ini dengan kondisi rata-rata dari tahun 1996 hingga 2005. Studi ini mencakup sekitar 3.700 wilayah di dunia dan diperbarui setiap bulan untuk memberikan proyeksi enam bulan ke depan.
Berdasarkan pemetaan tersebut, El Nino diproyeksikan menyebabkan 857.400 kematian tambahan akibat panas sejak awal kemunculannya pada Juni hingga Maret tahun berikutnya. Proyeksi ini melampaui perkiraan para ilmuwan pada bulan sebelumnya dengan selisih lebih dari 350 ribu jiwa. Lebih dari separuh dari total kematian tersebut diperkirakan terjadi dalam kurun waktu enam bulan mendatang.
Nigeria diprediksi menanggung dampak terberat dengan angka kematian mencapai lebih dari 56 ribu jiwa. India berada di urutan berikutnya dengan risiko 55.200 kematian, disusul oleh Indonesia di posisi ketiga dengan 29.300 korban jiwa. Dua negara lain yang melengkapi posisi lima besar adalah Brasil dengan 19.500 kematian dan Sudan dengan 14.700 kematian.
Upaya Mencegah Risiko Korban Jiwa
Pemetaaan ini diharapkan dapat membantu para peneliti dan pembuat kebijakan untuk mengantisipasi lokasi terdampak paling parah sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
“Penelitian kami memanfaatkan kemampuan peramalan baru untuk menjawab salah satu pertanyaan paling mendesak yang kita hadapi, di mana panas ekstrem kemungkinan akan merenggut nyawa?” kata salah satu pendiri Climate Impact Lab sekaligus Milton Friedman Distinguished Service Professor in Economics di Chicago University, Michael Greenstone, seperti dilaporkan Inet Detikcom dari New York Post.
Greenstone menjelaskan bahwa pemetaan ini menjadi modal penting untuk meminimalkan dampak buruk dari cuaca ekstrem tersebut.
“Kemampuan untuk mengantisipasi dampak mematikan dari panas ekstrem merupakan langkah maju yang besar. Ini berarti kita dapat mengidentifikasi di mana orang menghadapi risiko terbesar dan memberi para pembuat keputusan kesempatan untuk bertindak sebelum nyawa melayang,” tambahnya.
Sejak Juni, fenomena El Nino diperkirakan telah menyebabkan 484.500 kematian tambahan di seluruh dunia. Sejumlah dampak berantai yang sudah terjadi meliputi bencana kebakaran hutan di Indonesia, minimnya curah hujan monsun di India, serta kekeringan berkepanjangan di Amerika Tengah.







