KEUANGAN

Analis Terbelah Prediksi Harga Emas Dunia Pekan Ini

Analis Terbelah Prediksi Harga Emas Dunia Pekan Ini
Daftar Isi
  1. Pergerakan Harga Emas Sepanjang Pekan Lalu
  2. Pandangan Analis dan Investor yang Terbelah
  3. Faktor Penentu Kebijakan Bank Sentral

Harga emas dunia mengalami penurunan tajam sepanjang pekan lalu akibat kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, serta prospek kebijakan suku bunga ketat Federal Reserve. Seperti dilaporkan Liputan6.com, tekanan pasar tersebut mendorong harga emas sempat anjlok di bawah level US$ 4.000 per ons.

Pergerakan Harga Emas Sepanjang Pekan Lalu

Berdasarkan data Kitco yang dikutip Liputan6.com, harga emas spot membuka perdagangan pekan lalu di level US$ 4.164,69 per ons dan sempat menyentuh harga tertinggi mingguan US$ 4.190,17 pada Senin. Namun, harga berbalik melemah dipicu kenaikan harga energi serta imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, ditambah pasar yang mencerna data inflasi konsumen dan produsen AS yang melampaui perkiraan.

Tekanan jual berlanjut hingga Jumat ketika harga emas menyentuh level terendah mingguan di posisi US$ 3.975,10 per ons, yang merupakan titik terendah sejak awal Juni. Menjelang penutupan pekan, harga bergerak naik turun di kisaran US$ 4.000 per ons.

Pandangan Analis dan Investor yang Terbelah

Survei mingguan Kitco News memperlihatkan analis Wall Street semakin bersikap pesimistis, sementara para investor ritel masih menaruh harapan pada peluang pemulihan harga emas. Survei tersebut melibatkan 17 analis, dengan rincian 7 analis atau 41 persen memperkirakan harga emas kembali turun, 4 analis atau 24 persen memprediksi kenaikan, dan 6 analis atau 35 persen memperkirakan harga bergerak mendatar.

Sebaliknya, dari 161 responden jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 67 investor ritel atau 42 persen memprediksi penguatan harga emas. Sebanyak 41 responden atau 26 persen memperkirakan penurunan berlanjut, sedangkan 53 responden atau 33 persen memproyeksikan konsolidasi.

Marc Chandler selaku Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex menyampaikan bahwa harga emas sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan di bawah US$ 3.990 per ons. Kondisi teknikal logam mulia tersebut dinilai masih lemah karena indikator momentum belum menunjukkan peningkatan dan rata-rata pergerakan masih menurun dengan resistensi awal di kisaran US$ 4.065 sampai US$ 4.075.

Adrian Day selaku Presiden Adrian Day Asset Management memperkirakan pergerakan harga emas akan relatif stabil. Ia menilai level US$ 4.000 atau sedikit di bawahnya masih akan mampu bertahan sebagai area penopang.

Pendapat serupa disampaikan James Stanley dari Forex.com yang menilai area US$ 4.000 sejauh ini masih kokoh menahan kejatuhan harga, sehingga ia tetap optimistis melihat peluang akumulasi jangka panjang.

Faktor Penentu Kebijakan Bank Sentral

Sejumlah bank sentral dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneter pekan ini, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, Bank Sentral Kanada, serta Bank Sentral Jepang. Kevin Grady selaku Presiden Phoenix Futures and Options menyatakan bahwa harga emas masih sangat sensitif terhadap suku bunga, sementara volatilitas pasar turut diperparah oleh ketidakpastian geopolitik dan menipisnya likuiditas.

Sean Lusk dari Walsh Trading menilai konflik yang terjadi, kenaikan harga minyak, dan ekspektasi inflasi masih akan membatasi potensi penguatan emas dalam waktu dekat. Sementara itu, Alex Kuptsikevich selaku analis pasar senior FxPro berpandangan bahwa pelemahan harga saat ini tampak berlebihan dan berpotensi memicu pemulihan korektif.

Pihak pasar juga akan mencermati rilis data ekonomi penting lainnya seperti pesanan barang tahan lama, tingkat kepercayaan konsumen, penjualan rumah baru, pertumbuhan ekonomi AS, serta data inflasi terbaru yang akan menjadi penentu arah harga emas.

Mungkin Anda Suka