Daftar Isi
Industri kecerdasan buatan (AI) mengalami perkembangan pesat, namun tidak sedikit produk dan proyek yang justru gagal di tengah jalan. Menurut data S&P Global Market Intelligence, sekitar 42 persen inisiatif AI pada akhirnya ditinggalkan oleh perusahaan induknya karena berbagai alasan seperti pendanaan yang kurang, tantangan teknis, persaingan ketat, hingga lemahnya permintaan pengguna.
Stumble OpenAI dan Penutupan Produk
Menurut laporan TechCrunch, raksasa AI seperti OpenAI juga tidak luput dari kegagalan dan kesalahan langkah. Perusahaan sempat mencoba mengubah ChatGPT menjadi “super app” dengan menggabungkan beberapa mode seperti Chat, Codex, dan Work, sementara versi klasiknya dinamai ChatGPT Classic. Desain ulang tersebut menuai kritik karena antarmukanya yang membingungkan dan membuat OpenAI segera mengembalikan tampilan familiar ChatGPT.
OpenAI juga menutup beberapa aplikasi mandiri dan memindahkan fiturnya langsung ke ChatGPT. ChatGPT Atlas, sebuah peramban web berbasis AI, dihentikan kurang dari setahun sejak peluncurannya pada Agustus, sementara fitur-fiturnya diserap ke ChatGPT. Langkah serupa diterapkan pada agen AI Operator dan platform berbagi video Sora yang ditutup pada Maret 2026 akibat biaya operasional tinggi serta tantangan retensi pengguna.
Kendala Apple Siri AI dan Microsoft Recall
Ketika Apple memperkenalkan Apple Intelligence dengan peningkatan pada Siri, fitur tersebut menjanjikan kemampuan memahami konteks lintas aplikasi. Namun, Apple berulang kali menunda perilisan Siri versi baru karena masalah teknik dan bug, yang berujung pada penyelesaian sengketa hukum senilai USD250 juta terkait pemasaran kemampuan AI pada iPhone 16. Fitur Siri AI baru muncul dalam beta iOS pada Juli dan mulai diluncurkan untuk pengguna berbahasa Inggris.
Sementara itu, fitur Recall besutan Microsoft yang diumumkan pada konferensi pengembang Build dirancang sebagai memori fotografis bertenaga AI untuk PC Windows. Peluncuran ini langsung memicu kecaman terkait privasi dan keamanan karena kekhawatiran merangkum informasi sensitif seperti kata sandi dan pesan pribadi. Microsoft sempat menunda fitur ini hampir setahun untuk merombak keamanannya, namun celah keamanan tetap ditemukan oleh peneliti siber.
Kegagalan Perangkat Keras AI: Humane AI Pin dan Rabbit R1
Di sektor perangkat keras, Humane AI Pin menjadi salah satu kegagalan paling menonjol setelah menghimpun dana hingga USD230 juta dari investor. Produk ini terkendala masalah performa dan risiko kebakaran baterai pada wadah pengisian dayanya. Humane akhirnya menutup bisnis AI Pin pada Februari 2025, dengan sebagian besar asetnya diakuisisi oleh HP senilai USD116 juta.
Perangkat keras lain yang mendapat sorotan adalah Rabbit R1 yang diumumkan pada ajang CES Januari 2024. Meskipun mengeklaim penjualan mencapai 100.000 unit, ulasan awal menyebut perangkat tersebut belum selesai dengan kinerja yang tidak diandalkan. Perusahaan terus memperbarui perangkat tersebut sebagai pengontrol komputer dan mengumumkan proyek perangkat keras baru bernama Project Cyberdeck.
Daftar Panjang Startup dan Platform AI yang Gulung Tikar
Sejumlah startup dan aplikasi AI lainnya bernasib sama dengan menghentikan operasional mereka. Relay, alat otomasi alur kerja bertenaga AI berusia lima tahun, ditutup pada Agustus setelah platform besar seperti OpenAI dan Google membangun fitur otomasi serupa. Notion Mail juga dijadwalkan tutup pada 22 September karena pengguna lebih memilih agen AI terpisah untuk mengelola kotak masuk surel mereka.
Aplikasi audio AI Huxe yang dikembangkan oleh mantan pengembang Google NotebookLM ditutup pada Mei 2026 akibat persaingan dari platform besar seperti Spotify. Platform perbandingan model AI Yupp yang didukung lebih dari 800 model gagal mencapai kecocokan pasar dan tutup pada Maret 2026. Begitu pula dengan Figgs AI yang membiarkan pengguna berinteraksi dengan karakter kustom, terpaksa ditutup akibat tingginya biaya pemeliharaan layanan gratis.
Kebangkrutan Character.ai
Platform chatbot Character.ai resmi mengajukan kebangkrutan setelah melalui berbagai tantangan hukum, regulasi, dan operasional. Didirikan pada 2021, platform ini sempat meraih valuasi USD1 miliar dan melisensikan teknologinya kepada Google senilai USD2.7 miliar pada tahun berikutnya. Perusahaan kemudian menghadapi tuntutan hukum dari keluarga terkait kasus bunuh diri remaja serta surat peringatan dari Disney atas penggunaan karakter tanpa izin.
Meskipun telah membatasi pengguna di bawah 18 tahun dan sepakat menyelesaikan beberapa tuntutan hukum pada awal 2026, hal tersebut belum cukup menyelamatkan kondisi keuangan perusahaan. Dalam proses kebangkrutan ini, Disney muncul sebagai penawar awal dengan mengajukan 20 juta dolar Amerika Serikat untuk lisensi hak kekayaan intelektual tertentu. Aplikasi Character.ai tetap beroperasi selama proses berlangsung, dan penjualan tersebut diperkirakan akan rampung pada akhir November atau awal Desember.
Sumber: TechCrunch








