Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di Indonesia tahun ini akan mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologisnya. Kondisi tersebut dipicu oleh musim kemarau yang bertepatan dengan berlangsungnya fenomena El Nino dan IOD.
Penyebab dan Sifat Musim Hujan
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa sebagian wilayah di Tanah Air baru akan memasuki musim hujan pada bulan November, sementara wilayah lainnya menyusul pada Desember. Meskipun sifat hujannya normal atau sama dengan rata-rata klimatologis dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, periodenya tercatat lebih pendek.
Seperti dilaporkan CNN Indonesia, Faisal menyampaikan bahwa kondisi tersebut akan memicu frekuensi hujan lebat, sangat lebat, hingga hujan ekstrem yang lebih sering terjadi mulai akhir tahun hingga awal tahun depan. Pihaknya memperingatkan potensi peningkatan risiko bencana alam seperti banjir dan longsor seiring mendekati puncak musim hujan.
Dalam konferensi pers secara daring, Faisal mengungkapkan bahwa gabungan antara El Nino dan IOD memperparah serta memperpanjang masa kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga menghambat pembentukan awan hujan dan membuat musim hujan datang terlambat serta berlangsung lebih singkat.
Jadwal Masuk dan Puncak Musim Hujan
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memaparkan bahwa sebanyak 185 zona musim atau sekitar 24,66 persen wilayah Indonesia mengawali musim hujan pada November. Sementara itu, 266 zona musim atau 17,31 persen wilayah lainnya mulai memasuki musim hujan pada Desember. Perhitungan ini menunjukkan lebih dari 61 persen luas daratan Indonesia mengalami kemunduran jadwal.
Berdasarkan catatan BMKG, sebanyak 155 zona musim atau 39,64 persen luas daratan Indonesia mencapai puncak musim hujan pada Desember. Selanjutnya, puncak musim hujan terjadi pada Januari di 162 zona musim atau 25,68 persen luas daratan, dan pada Februari di 190 zona musim atau 16,79 persen luas daratan.
Wilayah yang mengalami puncak musim hujan pada Desember meliputi sebagian Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian barat, sebagian kecil Papua Barat, Papua bagian utara, Papua Tengah bagian timur, serta Papua Selatan bagian barat.
Puncak musim hujan pada Januari mencakup Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, Nusa Tenggara Barat bagian barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, serta sebagian Pulau Papua.
Adapun wilayah yang mengalami puncak musim hujan pada Februari meliputi Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, serta sebagian besar Pulau Papua.







