TIPS & TRIK

Tips Gaet Pelanggan Startup Tanpa Harus Viral di Medsos

Tips Gaet Pelanggan Startup Tanpa Harus Viral di Medsos
Daftar Isi
  1. Strategi Pemasaran Kreator dan Pengaruhnya
  2. Pendekatan Penjualan Tradisional yang Efektif
  3. Memanfaatkan Data Penggunaan dan Loyalitas Pelanggan

Mendapatkan pelanggan awal bagi sebuah perusahaan rintisan atau startup sering kali menjadi tantangan yang sangat berat dalam dunia bisnis. Bahkan ketika perusahaan berhasil menarik minat awal, belum ada jaminan para pelanggan tersebut akan terus bertahan menggunakan produk atau layanan mereka.

Strategi Pemasaran Kreator dan Pengaruhnya

Dalam acara TechCrunch Disrupt, para pelaku industri seperti pendiri dan CEO startup perjalanan Engine Elia Wallen, pendiri serta CEO Gamma Grant Lee, dan mitra umum di Google Ventures Crystal Huang, membagikan berbagai kiat untuk menarik serta mempertahankan pelanggan. Di era modern ketika perusahaan kecerdasan buatan muda membangun audiens besar melalui kehadiran pendiri mereka di ranah daring, media sosial tampak seperti jalan pintas untuk meraih pelanggan awal. Namun, menurut Lee, para pendiri bisnis harus tetap bersikap strategis jika ingin meningkatkan strategi bisnis dengan pemasaran modern.

Gamma yang menjual perangkat lunak presentasi bertenaga kecerdasan buatan berhasil menskalakan bisnisnya secara eksponensial lewat strategi media sosial yang mengerahkan para influencer melalui program duta atau Gambassador. Perusahaan tersebut mengadopsi rencana itu sebelum pemasaran berbasis influencer menjadi strategi yang teruji bagi perusahaan yang lebih kecil, hingga akhirnya mencapai valuasi miliaran dolar. Meskipun demikian, Lee mengingatkan bahwa sekadar memberi platform kepada para influencer dan menyuruh mereka mempromosikan merek secara daring tidak otomatis mendatangkan penjualan.

Lee mengatakan bahwa para pendiri terkadang memperlakukan pemasaran kreator sebagai hal yang bisa dilepas begitu saja tanpa pengawasan lanjutan. Menurut Lee, para pendiri akan jauh lebih terbantu dengan meluangkan banyak waktu bersama para kreator tersebut. “If you have a product that can serve many different segments or use cases, then you want to basically have creators that can target each one of those,” ujar Lee. Ia menambahkan bahwa jika para kreator tidak mampu memahami cara mengartikulasikan nilai dari produk yang ditawarkan, berapapun uang yang dikeluarkan akan sia-sia.

Pendekatan Penjualan Tradisional yang Efektif

Efektivitas media sosial sendiri sangat bergantung pada jenis bisnis yang dijalankan, dan cara-cara lain untuk menjangkau pelanggan bisa sama efektifnya atau bahkan lebih baik. Hal tersebut dibuktikan oleh Wallen, di mana perusahaannya yang mengelola pemesanan penginapan dan perjalanan untuk bisnis menengah berhasil mengumpulkan pemesanan hingga USD150 juta melalui jalur mandiri sebelum menerima pendanaan luar, tanpa strategi media sosial yang terlihat sama sekali.

Bagi Wallen, taktik penjualan tradisional jauh lebih berguna dibandingkan video TikTok yang positif. Perusahaannya mengandalkan acara tatap muka dan sambungan telepon langsung untuk mendekati klien. Menurutnya, banyak orang yang tidak tumbuh dengan metode tersebut menganggapnya usang atau tidak berfungsi, padahal kenyataannya metode tersebut sangat ampuh menjangkau basis klien luring yang besar. “We still have a lot of people picking up the phone. A lot of people who didn’t grow up with that or don’t understand it think that it’s outdated or it doesn’t work but it does,” tutur Wallen. Ia juga menyebutkan bahwa taktik tatap muka seperti menyewa seorang pesulap untuk menarik calon klien di acara pameran membuktikan bahwa keterlibatan personal kuno masih sangat ampuh.

Memanfaatkan Data Penggunaan dan Loyalitas Pelanggan

Sementara itu, Huang menuturkan bahwa ketika sebuah perusahaan telah memiliki pelanggan, banyak nilai berharga yang dapat digali dengan mengamati cara mereka menggunakan produk tersebut. Analisis data penggunaan dapat memperlihatkan apakah aktivitas tersebut bersifat rutin, meningkat, atau apakah mereka merekomendasikan produk kepada rekan-rekan mereka. Informasi awal mengenai penggunaan dan retensi tersebut juga dapat memperlihatkan kemunculan para penggemar fanatik yang bahkan ingin bekerja di perusahaan atau mempromosikan merek secara sukarela.

Huang menegaskan bahwa perusahaan perlu memiliki cara-cara tersendiri untuk menciptakan para penginjil merek atau evangelist yang benar-benar memiliki kepedulian tinggi terhadap produk. “Can you look into usage data and figure out if it’s recurring, if it’s increasing, if they are referring their friends?” kata Huang.

Sumber: TechCrunch

Mungkin Anda Suka