PT Taspen (Persero) sedang mengkaji perombakan skema iuran bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) aktif guna memperkuat ketahanan dana tabungan hari tua dan pensiun. Langkah ini disiapkan untuk mengatasi ketimpangan antara penerimaan iuran dan besarnya klaim yang harus dibayarkan setiap tahunnya.
Usulan Penyesuaian Iuran dan Skema Pendamping
Saat ini, pemotongan iuran Tabungan Hari Tua (THT) dipatok sebesar 3,25 persen dari gaji pokok dan tunjangan keluarga, sedangkan program pensiun sebesar 4,75 persen. Corporate Secretary Taspen Henra menjelaskan bahwa perseroan berencana mengusulkan peningkatan iuran serta mengubah basis pemotongan dari gaji pokok menjadi take home pay, meski skema tersebut masih dalam tahap pembahasan.
Selain itu, Taspen mengusulkan adanya skema kontribusi pendamping dari pemerintah agar pembiayaan pensiun tidak hanya memotong penghasilan ASN. Model pengelolaan ini mengacu pada sistem pensiun di beberapa negara seperti Malaysia dan Korea Selatan demi mengoptimalkan manfaat bagi pensiunan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Penyelarasan skema iuran dinilai sangat mendesak mengingat penerimaan iuran THT Taspen berkisar Rp8 triliun per tahun, sementara kewajiban pembayaran klaim mencapai Rp15 triliun per tahun. Selisih defisit tersebut selama ini ditutup dari hasil pengelolaan investasi perseroan.
Perubahan Strategi Investasi dan Kinerja Keuangan
Menghadapi dinamika pasar modal dan volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Taspen memilih merombak alokasi investasi. Porsi investasi pada instrumen saham dipangkas secara signifikan dari sebelumnya 10 persen menjadi sekitar 3 persen. Sebagian besar dana kelolaan dialihkan ke instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi dan deposito, yang porsinya mencapai hampir 80 persen per September 2026.
Henra menegaskan penempatan investasi Taspen tunduk ketat pada Peraturan Menteri Keuangan. Pengalihan dana ke instrumen yang lebih aman terbukti efektif meredam dampak fluktuasi IHSG yang sempat tertekan di level 5.185 sebelum ditutup menguat ke posisi 5.282 pada Rabu (28/10/2026).
Dari sisi kinerja keuangan, Taspen membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp1,04 triliun pada 2025, terkoreksi dari Rp1,24 triliun pada tahun sebelumnya. Direktur Utama Taspen Rony Hanityo Aprianto menjelaskan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/7/2026), bahwa penurunan laba dipicu oleh keputusan perseroan memperbesar alokasi pencadangan penurunan nilai (impairment) hingga Rp1,82 triliun pada 2025, melonjak dibanding 2024 yang tercatat Rp288 miliar.
Pencadangan tersebut disiapkan sebagai langkah konservatif untuk mengantisipasi potensi risiko pada instrumen obligasi BUMN karya yang sedang menghadapi tantangan bisnis. Rony menambahkan bahwa nilai pencadangan ini dapat dipulihkan kembali apabila kondisi instrumen investasi tersebut membaik di masa mendatang.








