INTERNET

Sindikat Curi Perangkat AI Rp 1,8 Triliun, Modus Mirip Film Hollywood

Sindikat Curi Perangkat AI Rp 1,8 Triliun, Modus Mirip Film Hollywood
Daftar Isi
  1. Modus Peretasan dan Kargo yang Dicuri
  2. Taktik Digital dan Aksi ala Film Laga
  3. Evolusi Kejahatan dan Penjualan Barang Curian

Sindikat penjahat melancarkan perampokan besar-besaran terhadap peralatan kecerdasan buatan atau AI bernilai fantastis. Berdasarkan laporan NBC News seperti dikutip detikINET dari NY Post, para pelaku menggunakan taktik digital canggih dan aksi bak film laga untuk membawa kabur kargo bernilai jutaan dolar yang sedang dikirim menuju lokasi proyek data center.

Modus Peretasan dan Kargo yang Dicuri

Komplotan penjahat tersebut menggasak perangkat pusat data dengan nilai keseluruhan mencapai lebih dari USD 100 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun sejak Juni. Kejahatan ini dilakukan dengan memanfaatkan akun hasil peretasan, kartu identitas palsu, hingga manipulasi koordinat GPS.

Barang-barang yang dirampas meliputi chip semikonduktor mahal, kabel serat optik, server, kabel tembaga, sampai mesin penambang bitcoin. Maraknya aksi kejahatan ini terjadi di tengah gelontoran dana miliaran dolar oleh perusahaan-perusahaan demi mempercepat pembangunan data center AI.

Sejak tahun 2025, hampir dua lusin pencurian kargo telah dilaporkan terjadi di beberapa negara bagian Amerika Serikat, termasuk California, Texas, dan Utah.

“Ini ibarat mencuri emas batangan murni. Jauh lebih mudah mencuri barang ini daripada merampok bank,” ujar Keith Lewis, kepala di perusahaan penilai risiko pencurian kargo Verisk CargoNet.

Taktik Digital dan Aksi ala Film Laga

Dalam menjalankan aksinya, para penjahat meretas akun pialang kargo di situs pengiriman. Mereka memanfaatkan akses tersebut guna menawarkan muatan fiktif demi memancing perusahaan angkutan truk yang sah.

Ketika pihak pengirim merespons, para pencuri mengirimkan tautan berbahaya untuk memasang perangkat lunak yang dapat mengambil alih akun perusahaan. Dengan cara itu, mereka bisa mengikuti tender pengiriman yang sebenarnya.

Penjahat kemudian merekrut pengemudi truk yang tidak menaruh curiga atau menggunakan SIM palsu untuk menyusupkan komplotan mereka agar disewa sebagai pengangkut. Kargo itu selanjutnya diserahkan kepada sopir sindikat untuk dijual kembali, sementara pada beberapa kasus tertentu pencuri memanipulasi koordinat lokasi.

Sebagai contoh, dua kargo yang dicuri di Illinois berisi gulungan kabel tembaga senilai USD 300.000 dan peralatan daya modular data center senilai sekitar USD 1 juta. Para pelaku bahkan menerapkan taktik ala film aksi Hollywood.

Dalam satu kejadian, sebuah truk trailer bermuatan peralatan server senilai USD 13 juta sedang dalam perjalanan menuju Fayetteville, Georgia, yang menjadi lokasi pembangunan salah satu data center terbesar.

Sebuah sedan tanpa pelat nomor menabrak dua polisi yang disewa untuk mengawal kargo tersebut. Tabrakan ini memaksa aparat berhenti sementara komplotan pencuri melarikan diri bersama muatan mereka.

“Kecelakaan itu bukan ketidaksengajaan. Penjahat menginginkan muatan tersebut, jadi mereka sengaja melumpuhkan pengawalnya,” ungkap Gerardo Pachuca, penyelidik swasta dan mantan deputi sheriff Los Angeles County.

Evolusi Kejahatan dan Penjualan Barang Curian

Rentetan serangan ini menunjukkan bahwa komplotan pencuri di era ledakan AI telah berevolusi. Para penjahat menyusup ke surat elektronik untuk mengintai kargo bernilai tinggi, membelokkan rute pengiriman, mengacak GPS, serta memakai kecerdasan buatan untuk membuat SIM palsu.

Setelah berhasil menguasai barang curian, para penjahat menjual komponen-komponen tersebut secara eceran kepada perusahaan teknologi yang tergiur memperoleh perangkat AI dengan harga murah. Sebagian barang rampasan bahkan dikirim ke luar negeri, khususnya China, tempat akses terhadap teknologi canggih Amerika Serikat dibatasi.

Sejumlah negara bagian kini telah membentuk satuan tugas khusus guna melacak kargo yang dicuri tersebut.

“Satu-satunya celah aksi ini untuk berhasil adalah jika latar belakang sopir tak diperiksa dengan benar,” kata Scott Cornell, ketua TAPA Americas.

Mungkin Anda Suka