Daftar Isi
Samsung Electronics Indonesia resmi mengumumkan para pemenang ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026 di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Dua tim dari kategori pelajar sekolah menengah dan mahasiswa keluar sebagai juara utama berkat inovasi pemurni udara berbasis lumut serta aplikasi pembelajaran matematika bagi penyandang tunanetra.
Rangkaian Ajang Inovasi SFT 2026
Kompetisi tahun ini mencatatkan partisipasi lebih dari 4.000 pendaftar yang berasal dari 27 provinsi di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.600 peserta mengikuti pelatihan Design Thinking, 40 tim berhasil melaju ke babak AI Amplification, hingga akhirnya menyisakan 10 tim yang bersaing di tahap penjurian final.
Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita, menyatakan bahwa teknologi memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. “Bagi Samsung, teknologi memiliki potensi besar untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Namun, teknologi baru benar-benar bermakna ketika bisa menjawab kebutuhan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Anggi seperti dilaporkan Inet – Detikcom.
Inovasi Pemurni Udara dan Aplikasi Tunanetra
Kategori SMA/SMK/MA dimenangkan oleh tim Briotech Alpha dari SMAN 81 Jakarta yang menghadirkan Aerospora, sebuah perangkat pemurni udara berbasis lumut yang mengombinasikan kecerdasan buatan atau AI serta Internet of Things (IoT). Perangkat berbentuk dinding hijau untuk ruang semi-indoor ini memanfaatkan lumut untuk menyerap polutan PM2.5 serta didukung sistem penyiraman otomatis bernama Predictive Hydration Model.
Alat tersebut juga dilengkapi sensor kualitas udara dan panel dasbor VERA yang memanfaatkan tablet Samsung bekas. Tim pengembang menargetkan perangkat ini dipasarkan dengan harga Rp 1.200.000, konsumsi daya listrik 15 hingga 25 watt, serta mampu mencakup luas ruangan 50 sampai 80 meter persegi.
Sementara itu, kategori D3/D4/S1 dimenangkan oleh tim I-Seung dari Universitas Komputer Indonesia (Unikom) lewat karya mereka yang bernama NovaSight. Aplikasi ini merupakan sarana pembelajaran matematika berbasis AI yang dirancang khusus untuk membantu para siswa tunanetra.
NovaSight dibekali lima fitur utama meliputi Annoter, Scriber, Clarifier, Quizzer, dan Evaluator yang berfungsi mengubah materi visual menjadi bentuk narasi, merekam langkah-langkah perhitungan, menjelaskan soal via chatbot AI, serta membantu guru melakukan evaluasi. Berdasarkan hasil pengujian awal yang dipaparkan, siswa tunanetra dapat mengerjakan sekitar 80 persen soal secara mandiri menggunakan aplikasi tersebut.
Dukungan Dunia Pendidikan
Head of Product Integration Group Samsung R&D Institute Indonesia, Banu Ahwan Pribadi, mengungkapkan bahwa inovasi harus berawal dari kepekaan terhadap persoalan di tengah masyarakat. “Yang kami butuhkan adalah talenta-talenta yang tidak hanya pandai, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membaca dan peka terhadap permasalahan yang ada di masyarakat,” tuturnya.
Di sisi lain, Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Assoc. Prof. Suparto, memberikan dukungan agar perguruan tinggi memberikan apresiasi nyata terhadap karya-karya mahasiswa. “Saya berharap perguruan tinggi dapat memberikan rekognisi akademik dalam bentuk pengakuan SKS, misalnya, sesuai dengan capaian pembelajaran dan ketentuan akademik yang berlaku,” ucapnya.
Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Asep Sukmayadi dari Direktorat SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terhadap karya para pelajar yang dinilai mempunyai potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh. “Kalau Samsung menyampaikan Solve for Tomorrow, saya ingin mengatakan, but tomorrow is now,” ujar Asep.
Pihak Samsung berharap kedua inovasi pemenang tersebut dapat terus dikembangkan agar manfaatnya mampu dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.








