KEUANGAN

Rupiah Sentuh 18.119 Tertekan Hasil Pemilu AS

Rupiah Sentuh 18.119 Tertekan Hasil Pemilu AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami tekanan pada Jumat, 6 November 2026. Menurut perkiraan ekonom, pergerakan mata uang Garuda dipengaruhi oleh hasil pemilihan umum paruh waktu di AS yang dimenangkan oleh Partai Demokrat.

Faktor Pemilu AS dan Pertumbuhan Ekonomi Domestik

Berdasarkan catatan data RTI, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.119 per dolar AS. Angka tersebut melemah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di kisaran Rp18.082 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa hasil pemilihan umum tersebut mulanya mendongkrak selera risiko di pasar keuangan global, serta dibarengi dengan tren penurunan harga minyak dunia yang terus berlanjut. Seperti dilaporkan Liputan6.com, para investor mulai mencermati dampak dari kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu di AS yang memicu aksi jual secara masif di pasar saham setempat.

Pelaku pasar dilaporkan mengalihkan portofolio investasi dari sektor saham terkait kecerdasan buatan menuju aset aman di tengah kekhawatiran bahwa para pejabat Partai Demokrat yang baru terpilih akan menerapkan kebijakan yang lebih ketat terhadap industri tersebut.

Selain faktor global, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh rilis data dari Badan Pusat Statistik mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga tahun 2026. Pertumbuhan ekonomi tercatat meningkat secara mengejutkan menjadi 5,47 persen secara tahunan dari capaian 5,29 persen pada kuartal sebelumnya, yang utamanya ditopang oleh kenaikan ekspor dan perubahan inventori di tengah pelemahan permintaan domestik.

Josua menambahkan bahwa pergerakan rupiah untuk perdagangan hari ini diproyeksikan berada dalam kisaran Rp18.025 hingga Rp18.125 per dolar AS.

Penurunan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah

Sementara itu, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia tercatat mengalami penurunan di seluruh tenor pada perdagangan Kamis, 5 November 2026. Penurunan ini didukung oleh membaiknya sentimen risiko global serta penurunan harga minyak dunia yang masih berlanjut.

Imbal hasil obligasi pemerintah acuan untuk tenor 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun masing-masing turun sebesar 20 basis poin, 8 basis poin, 2 basis poin, dan 7 basis poin menjadi 7,38 persen, 7,66 persen, 7,73 persen, dan 7,69 persen.

Aktivitas perdagangan obligasi pemerintah terpantau meningkat yang ditunjukkan oleh kenaikan total volume transaksi menjadi Rp25,9 triliun dari sebelumnya sebesar Rp19,46 triliun. Meskipun demikian, kepemilikan investor asing pada surat berharga negara tersebut tercatat turun sebesar Rp0,68 triliun menjadi Rp915 triliun per 4 November 2026, atau setara dengan 12,97 persen dari total outstanding.

Mungkin Anda Suka