Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan pada perdagangan awal Jumat (6/11) akibat eskalasi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. Kondisi ini sekaligus mengalahkan ekspektasi perdamaian yang sempat muncul pascapemilu Amerika Serikat.
Kenaikan Harga Minyak Brent dan WTI
Seperti dilaporkan CNN Indonesia, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari naik US$1,57 atau 1,6 persen menjadi US$99,86 per barel pada pukul 09.22 WIB. Di sisi lain, minyak mentah berjangka US West Texas Intermediate bertambah US$1,10 atau 1,22 persen menjadi US$91,62 per barel.
Sebelumnya, harga komoditas ini sempat merosot lantaran pasar memperkirakan perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran akan mereda. Optimisme tersebut dipicu oleh kemenangan Partai Demokrat yang mengambil alih kendali Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump.
Perkembangan politik tersebut sempat membuat harga minyak anjlok hingga 8 persen pada Rabu (4/11) dan menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir. Kendati demikian, situasi di lapangan dengan cepat mengubah arah pasar.
Faktor Pemicu Lonjakan Harga
Lonjakan serangan terhadap kapal-kapal tanker yang terjadi pada Rabu dan Kamis di kawasan Teluk serta Selat Hormuz kembali memantik kekhawatiran pelaku pasar. Ahli Strategi Komoditas Senior ANZ Daniel Hynes menjelaskan bahwa penguatan harga terjadi karena para pedagang menilai aksi jual pada hari Rabu sudah terlalu berlebihan.
Hynes menyatakan bahwa kemenangan Partai Demokrat memang sempat menekan harga, tetapi realitas kondisi geopolitik menyadarkan pasar pada perdagangan hari Kamis. Iran disebut memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan kecil kemungkinannya akan melepaskan kendali tersebut.
Lebih lanjut, Hynes memaparkan bahwa aliran minyak yang melewati Selat Hormuz saat ini hanya beroperasi di bawah 60 persen dari kapasitas normalnya. Risiko pelayaran yang tinggi di jalur tersebut juga diperkuat oleh laporan otoritas Iran pada hari Kamis yang menyebutkan ada tiga kapal tanker menjadi target serangan, serta konfirmasi dari badan keamanan maritim Inggris UKMTO mengenai tingginya intensitas insiden di perairan tersebut.








