Bitcoin Depot menghentikan seluruh operasionalnya setelah mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 atau Chapter 11. Operator mesin anjungan tunai mandiri kripto tersebut mengambil langkah hukum secara sukarela ke Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik Selatan Texas pada Mei lalu sebagai bagian dari rencana penghentian bisnis dan penjualan aset perusahaan.
Jaringan ATM Offline dan Penurunan Keuangan
Seluruh jaringan kios milik perusahaan kini sudah tidak aktif. Padahal, pada tahun lalu, perusahaan yang berbasis di Atlanta dan tercatat di bursa saham New York tersebut sempat mengoperasikan hingga 9.276 unit mesin yang memungkinkan pelanggan menukar uang tunai dengan mata uang kripto Bitcoin di Amerika Serikat, Kanada, serta Australia.
Pengajuan status pailit ini menyusul laporan kinerja keuangan pada kuartal I-2026 yang memperlihatkan penurunan pendapatan hingga 49 persen secara tahunan. Pada kurun waktu tersebut, perusahaan mencatatkan kerugian bersih mencapai US$9,5 juta, berbalik dari perolehan laba US$12,2 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di samping itu, laba kotor anjlok 85 persen menjadi US$45 juta.
Tudingan Regulasi dan Tekanan Hukum
Pihak manajemen menunjuk aturan pemerintah yang semakin ketat dan rumit sebagai faktor utama yang meruntuhkan bisnis mereka, seperti dilaporkan CoinDesk dan dikutip CNBC Indonesia. Berbagai negara bagian menerapkan kewajiban kepatuhan baru yang lebih ketat, termasuk batasan transaksi hingga pelarangan langsung terhadap operasi mesin ATM kripto di sejumlah wilayah.
CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, menyatakan bahwa operator menghadapi eskalasi litigasi serta penegakan regulasi yang ketat. Menurutnya, perkembangan aturan mutakhir telah memberi dampak besar terhadap kondisi bisnis dan keuangan perusahaan sehingga model usaha yang dijalankan tidak lagi sanggup bertahan.
Selain masalah regulasi, perusahaan juga menghadapi gugatan hukum tingkat tinggi dari Jaksa Agung Massachusetts serta Iowa atas tuduhan memfasilitasi tindak penipuan kripto. Sepanjang tahun lalu, kasus penipuan melalui mesin anjungan tunai mandiri kripto secara nasional mencatat rekor kerugian hingga US$389 juta atau melonjak 58 persen dibandingkan tahun 2024, yang memicu perhatian intensif dari aparat penegak hukum.
Sebagai dampak dari permohonan kebangkrutan tersebut, entitas anak perusahaan di Kanada turut diikutsertakan ke dalam proses peradilan pailit di Amerika Serikat, sementara entitas di luar negeri akan ditutup secara bertahap mengikuti aturan hukum setempat.








