EKONOMI

Prediksi Rupiah Pekan Depan: Berpotensi Melemah ke Rp18.320

Prediksi Rupiah Pekan Depan: Berpotensi Melemah ke Rp18.320

Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada rentang Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang perdagangan pekan depan. Tekanan terhadap mata uang Indonesia ini dipicu oleh eskalasi geopolitik internasional serta dinamika internal dari dalam negeri.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Indonesia, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan estimasi pergerakan tersebut pada Minggu (1/11/2026). Seperti dilaporkan Liputan6.com, rupiah ditutup merosot 10 poin ke posisi Rp18.147 per dolar AS pada perdagangan Jumat (30/10/2026), setelah sebelumnya sempat berbalik menguat 35 poin dari penutupan hari sebelumnya di angka Rp18.137 per dolar AS.

Gejolak Geopolitik Tahan Laju Rupiah

Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen negatif eksternal dipicu oleh laporan The Wall Street Journal mengenai situasi di Timur Tengah. Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, memberikan pengarahan kepada Presiden AS Donald Trump mengenai opsi tindakan militer terhadap Iran dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih pada Kamis. Pertemuan itu turut dihadiri Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bersama sejumlah pejabat senior lainnya.

Dalam pembahasan tersebut, AS mempertimbangkan tindakan blokade yang sedang berlangsung hingga potensi pengaktifan kembali operasi tempur berskala besar. Trump juga mengisyaratkan kemungkinan diluncurkannya serangan baru seusai pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Saat dimintai konfirmasi mengenai rencana serangan susulan pada Rabu, Trump menyatakan bahwa segala kemungkinan bisa terjadi.

Kondisi ini meredupkan prospek penyelesaian konflik lewat jalur diplomasi, meski pihak Washington sempat mengupayakan pembukaan dialog dengan Teheran. Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan menghubungi pejabat keamanan Iran, Mohsen Rezaei, untuk menghidupkan kembali proses negosiasi, sementara para mediator sedang merancang skema kerangka kerja untuk mengakhiri perselisihan. Ketidakpastian situasi geopolitik global ini dikhawatirkan mengganggu iklim investasi, melambungkan harga energi, serta menekan nilai tukar mata uang negara berkembang.

Dinamika Politik Domestik dan Risiko Inflasi

Dari sisi domestik, ketegangan politik yang diwarnai gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai kota besar sejak awal Oktober turut menambah ketidakpastian ekonomi nasional. Aksi unjuk rasa tersebut mencerminkan kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penanganan kebakaran hutan, isu lingkungan, hingga alokasi penggunaan anggaran negara. Ibrahim menekankan bahwa stabilitas politik memegang peranan krusial dalam menjaga tingkat kepercayaan investor.

Selain faktor politik, pelaku pasar juga mencermati risiko inflasi menjelang pengumuman data inflasi Oktober pada pekan depan. Perkembangan angka inflasi tersebut dipandang sangat krusial karena akan memengaruhi keputusan Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga acuan. Pergerakan rupiah mendatang dipastikan bakal dipengaruhi kombinasi eskalasi geopolitik global, arah suku bunga AS, kondisi politik dalam negeri, serta angka prospek inflasi Indonesia.

Mungkin Anda Suka