KEUANGAN

Peretasan Binance Rp114 T, Diduga Ulah Hacker Korut

Peretasan Binance Rp114 T, Diduga Ulah Hacker Korut
Daftar Isi
  1. Dugaan Keterlibatan Peretas Korea Utara
  2. Langkah Pemulihan dan Pembekuan Aset
  3. Dampak terhadap Pasar Kripto

Industri mata uang kripto diguncang peretasan besar setelah aset senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun dicuri dari Binance, bursa kripto terbesar di dunia. Serangan yang disebut sebagai salah satu pencurian terbesar dalam sejarah aset digital ini diduga melibatkan kelompok peretas elite asal Korea Utara.

Dugaan Keterlibatan Peretas Korea Utara

Berdasarkan analisis perusahaan keamanan blockchain asal Amerika Serikat, TRM Labs dan Chainalysis, pola serangan terhadap Binance memiliki kemiripan dengan sejumlah peretasan besar sebelumnya yang diduga dilakukan oleh Korea Utara. TRM Labs menjelaskan bahwa para penyerang berhasil mengendalikan dompet digital yang digunakan Binance untuk menyimpan aset dan mengarahkannya ke dompet di bawah kendali peretas, mirip dengan serangan terhadap bursa kripto Bybit pada tahun 2025 yang disimpulkan FBI dilakukan oleh pihak Korea Utara. Selama bertahun-tahun, Korea Utara dituding memanfaatkan kelompok siber yang berafiliasi dengan negara untuk melakukan spionase, pencurian keuangan, hingga memperoleh sumber pendapatan, meski pemerintah negara tersebut secara konsisten membantah tuduhan itu.

Dalam penyelidikan awal, Binance menduga serangan bermula dari laptop milik salah satu insinyurnya yang telah diretas, sehingga penyerang memperoleh akses ke sistem internal perusahaan dan melakukan penarikan aset tanpa izin. Mark Karpeles, mantan pimpinan bursa Bitcoin Mt. Gox di Tokyo, menilai para peretas kemungkinan berhasil memperoleh akses ke kunci privat dari setidaknya dua dompet kripto milik Binance. Sementara itu, Co-CEO Binance, Richard Teng, menegaskan bahwa perusahaan akan menggunakan dana internal untuk menutup seluruh kerugian dan memastikan dana nasabah tetap aman.

Langkah Pemulihan dan Pembekuan Aset

Melalui platform X, Binance menyatakan bahwa mereka bekerja sama dengan mitra industri dan aparat penegak hukum untuk melacak serta membekukan aset yang dicuri. Sekitar US$3 miliar atau Rp54 triliun dari total dana yang hilang dilaporkan berhasil ditemukan dan dibekukan dengan cepat oleh sejumlah penerbit stablecoin, termasuk Tether, Circle, dan World Liberty Financial. Tether mengumumkan telah membekukan aset senilai hampir US$1,57 miliar, Circle membekukan lebih dari US$800 juta, sementara Ripple ikut membekukan aset senilai sekitar US$200 juta.

Besarnya nilai pencurian kali ini jauh melampaui jumlah dana perlindungan Secure Asset Fund for Users (SAFU) milik Binance yang mencakup cadangan Bitcoin senilai US$1 miliar. Kendati demikian, Binance memperkirakan layanan penarikan dana yang sempat dihentikan dapat kembali dibuka dalam waktu sekitar 45 jam, sementara sisa dana sebesar US$3,3 miliar masih belum berhasil ditemukan.

Dampak terhadap Pasar Kripto

Seperti dilaporkan Reuters, insiden tersebut langsung memicu kekhawatiran di pasar kripto dan membuat harga sejumlah mata uang digital mengalami penurunan. Bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam enam minggu di angka US$76.368, sedangkan Ethereum turun lebih dari 3 persen ke level US$2.178 sebelum pasar kembali menunjukkan stabilitas. Token BNB juga mengalami penurunan sekitar 5 persen dalam 24 jam menjadi US$709,70 berdasarkan data CoinGecko.

Tekanan turut dirasakan saham perusahaan yang berkaitan dengan industri kripto, di mana saham Coinbase Global turun 4,8 persen dan saham MicroStrategy merosot hampir 6 persen dalam perdagangan setelah jam bursa di Amerika Serikat. Tim Sun, peneliti senior di HashKey Group di Hong Kong, mengatakan insiden tersebut berpotensi menekan minat investor terhadap aset berisiko, sementara Cristiano Ventricelli dari Moody’s Ratings menilai dampak jangka panjang akan bergantung pada keberhasilan pemulihan aset serta tingkat kepercayaan terhadap ekosistem digital secara keseluruhan.

Mungkin Anda Suka