INTERNET

Peretasan Binance 6,3 Miliar Dolar AS Diduga Terbesar

Peretasan Binance 6,3 Miliar Dolar AS Diduga Terbesar
Daftar Isi
  1. Mengenal Binance dan Awal Mula Insiden
  2. Dugaan Keterlibatan Korea Utara
  3. Dampak bagi Pengguna dan Sistem Keuangan

Binance, bursa kripto terbesar di dunia, mengalami serangan siber yang diyakini sebagai peretasan kripto terbesar dalam sejarah dengan nilai mencapai 6,3 miliar dolar AS atau sekitar 4,7 miliar poundsterling. Kripto sendiri merupakan aset digital tanpa wujud fisik yang dikelola pengguna melalui dompet digital di komputer atau ponsel pintar.

Mengenal Binance dan Awal Mula Insiden

Didirikan di Tiongkok pada tahun 2017, Binance memiliki ratusan juta pengguna terdaftar di seluruh dunia dengan aset senilai lebih dari 160 miliar dolar AS pada tahun 2024. Perusahaan ini pernah menghadapi berbagai sorotan hukum, termasuk mundurnya mantan kepala eksekutif Changpeng Zhao pada tahun 2023 setelah mengaku bersalah atas pelanggaran pencucian uang, serta gugatan di Amerika Serikat pada tahun lalu.

Peretasan terjadi pada platform bursa terpusat global Binance.com, sementara layanan Binance.us untuk warga Amerika Serikat dilaporkan tidak terpengaruh. Co-Chief Executive Officer Binance, Richard Teng, menyatakan bahwa penyelidikan awal mengindikasikan insiden keamanan ini bermula dari laptop insinyur DevOps yang disusupi. Hal tersebut memberikan akses kepada penyerang ke wadah layanan untuk mengirimkan transaksi penarikan tidak sah.

Teng menjelaskan bahwa serangan tersebut bukanlah tindakan sekali klik yang sederhana, melainkan proses serangan yang lebih kompleks. Raghu Nandakumara selaku wakil presiden strategi industri pada platform keamanan siber Illumio berpendapat bahwa seorang insinyur kemungkinan dibujuk untuk mengikuti pengujian sehingga perangkat lunak berbahaya masuk ke laptop mereka. Karena laptop tersebut telah memiliki hak istimewa keamanan yang memadai, perangkat itu menjadi jalur penyerang langsung ke produksi dan dompet digital.

Teng menambahkan bahwa peretasan tersebut tidak dilakukan oleh satu orang dan para pelaku menggunakan metode canggih untuk menyembunyikan jejak mereka, termasuk mekanisme penghancuran diri. Menurut Dr Clive Summerfield selaku kepala perusahaan keamanan kecerdasan buatan FARx, brankas dengan pengaman matematis tetap dapat dibuka apabila individu yang memegang kunci berhasil diperdaya.

Dugaan Keterlibatan Korea Utara

Pihak berwenang belum memastikan siapa dalang di balik serangan tersebut, namun beberapa firma analisis mengarah pada Korea Utara. Perusahaan investigasi berbasis kecerdasan buatan TRM Labs menyampaikan dalam laporannya bahwa sejumlah elemen dalam serangan Binance memiliki kemiripan dengan insiden sebelumnya, termasuk peretasan bursa ByBit senilai 1,5 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Serangan-serangan terdahulu tersebut dikaitkan dengan kelompok peretas yang dituduh bekerja langsung untuk rezim Korea Utara bernama Lazarus Group atau TraderTraitor. Pakar kebijakan luar negeri Korea Utara dari Universitas Oxford, Dr Edward Howell, seperti dilaporkan BBC News Indonesia, mengatakan bahwa Pyongyang memiliki sejarah panjang dalam menggunakan perang siber untuk mendapatkan uang tunai.

Howell menyebutkan bahwa Korea Utara memiliki agen perang siber yang dikelola negara untuk mendanai program senjata pemusnah massal serta menjadi dana cadangan bagi rezim pemimpin Kim Jong Un. Ia menambahkan bahwa saat ini sekitar 40 hingga 50 persen program senjata pemusnah massal Korea Utara didanai melalui perang siber dan mata uang kripto. Korea Utara selalu membantah keterlibatan dalam serangan-serangan tersebut, sementara Binance belum memberikan tanggapan langsung kepada BBC terkait potensi keterkaitan dengan wilayah tersebut.

Dampak bagi Pengguna dan Sistem Keuangan

Teng memastikan bahwa dana pengguna Binance aman dan seluruh proses penyetoran serta penarikan dihentikan sementara sebagai tindakan pencegahan. Perusahaan berkomitmen menanggung seluruh kerugian dari cadangan darurat yang disiapkan untuk situasi semacam itu serta menutup sisanya menggunakan dana perusahaan.

Binance bekerja sama dengan mitra untuk membekukan aset yang terdampak dan sekitar 3 miliar dolar AS dilaporkan telah ditemukan. Pengguna yang khawatir dapat memeriksa dana melalui akun resmi mereka, sementara pengguna platform lain diminta waspada terhadap potensi peretas yang ingin memanfaatkan situasi.

Chief Technology Officer NordVPN, Marijus Briedis, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai surel yang mengklaim dana berada dalam risiko, akun dukungan palsu, atau pesan yang mendesak pemindahan kripto ke dompet aman. Pakar hukum penipuan internasional dari firma hukum Pinsent Masons, Jennifer Craven, berpendapat bahwa dampak peretasan ini dapat meluas melampaui Binance dan mengekspos kerapuhan ekosistem kripto.

Menurut Solcard selaku platform kartu virtual dan prabayar berbasis kripto, jumlah pemilik kripto di seluruh dunia diperkirakan berkisar antara 560 juta hingga 741 juta orang pada tahun 2026. Binance menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk menyelesaikan penanganan insiden ini.

Mungkin Anda Suka