Pabrikan sambal asal China, Lao Gan Ma, menuai sorotan tajam setelah berencana mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menggantikan ratusan tenaga kerja di pabriknya. Rencana tersebut mencuat usai Presiden Eksekutif sekaligus Kepala Petugas Mutu Lao Gan Ma, Li Xin, membahas pemanfaatan teknologi dalam konferensi pemerintah provinsi pada akhir September.
Kontroversi Penggunaan AI
Berdasarkan laporan Channel News Asia (CNA) yang dikutip dari media pemerintah, Li menyatakan bahwa teknologi AI mampu memangkas tingkat kecacatan produk secara signifikan. Pemanfaatan teknologi ini juga membantu perusahaan meraup rekor pendapatan sebesar 5,4 miliar yuan atau sekitar Rp14,73 triliun pada tahun 2025.
Li menyebutkan bahwa jumlah tenaga kerja pada salah satu lini produksi anjlok drastis dari lebih dari 600 orang menjadi tinggal 48 orang saja, menyusul penerapan sistem pemeriksaan cabai berbasis AI pada tahun sebelumnya.
Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman luas di dunia maya. Para pengguna media sosial di China melayangkan kritik karena perusahaan dinilai lebih mementingkan efisiensi dan keuntungan ketimbang nasib para karyawannya, padahal merek tersebut selama ini dikenal dekat dengan masyarakat kelas pekerja.
Seorang warganet di platform Weibo dengan akun Black Dragon menilai langkah tersebut sangat tidak etis dan ironis bagi sebuah perusahaan yang meraup keuntungan besar dari masyarakat kelas pekerja.
Tagar yang membahas kontroversi ini bahkan telah mencatatkan lebih dari 120 juta penayangan hingga Rabu. Sebagian warganet turut melontarkan ancaman boikot dengan menarik produk tersebut dari pasaran jika perusahaan benar-benar melakukan pemutusan hubungan kerja.
Bantahan Perusahaan dan Dampak Sosial
Menanggapi polemik yang berkembang, pihak perusahaan memberikan klarifikasi dan membantah tudingan pemutusan hubungan kerja massal tersebut. Perusahaan menilai informasi yang beredar di tengah masyarakat tidaklah akurat.
Perwakilan perusahaan menyampaikan kepada media China bahwa klaim ihwal pemutusan hubungan kerja besar-besaran adalah keliru. Juru bicara itu mengakui adanya penerapan sistem pemeriksaan berbasis AI, namun mengeklaim bahwa lini produksi terkait tidak pernah mempekerjakan ratusan orang seperti yang diberitakan.
Perdebatan ini muncul di tengah kekhawatiran yang kian meluas di China mengenai ancaman AI terhadap keberlangsungan lapangan pekerjaan, khususnya pada sektor padat karya. Pemerintah di Beijing sendiri telah berkomitmen untuk menjaga kesempatan kerja dan menggenjot penyerapan tenaga kerja di tengah dorongan percepatan adopsi teknologi AI.
Tekanan yang berasal dari kondisi ekonomi, perubahan demografi, serta pesatnya inovasi teknologi terus menjadi beban bagi pasar tenaga kerja di negara tersebut, yang kini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.







