EKONOMI

Mentan Laporkan Stok Beras 4,56 Juta Ton Rekor Tertinggi

Mentan Laporkan Stok Beras 4,56 Juta Ton Rekor Tertinggi

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan stok beras nasional mencapai 4,56 juta ton pada Oktober 2026 kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih, Jumat (23/10). Melalui perhitungan potensi produksi dan ketersediaan di luar gudang, pemerintah memastikan pasokan beras mencukupi kebutuhan dalam negeri hingga Juli 2027.

Stok Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah

Seperti dilaporkan CNN Indonesia, Amran menyampaikan bahwa jumlah stok beras sebanyak 4,56 juta ton tersebut merupakan pencapaian tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Ia membandingkan angka tersebut dengan cadangan beras pada masa pemerintahan sebelumnya yang pernah menyentuh level 2,6 juta ton pada tahun 1984 saat swasembada tercapai di era Presiden Soeharto.

Amran juga mengungkapkan bahwa cadangan beras Indonesia sempat tercatat berada di angka 5,37 juta ton, meski ia tidak menjelaskan secara rinci waktu pencatatan tersebut. Di samping ketersediaan di dalam gudang, pemerintah turut memperhitungkan estimasi produksi dari tanaman yang masih berada di lahan atau standing crop sebesar 10 juta ton.

Pemerintah juga memasukkan komponen beras yang berada di sektor hotel, rumah tangga, dan lainnya atau yang disebut sebagai horeka sebanyak 10 juta ton. Dengan menggabungkan seluruh komponen tersebut, total ketersediaan beras nasional dihitung mencapai sekitar 25 juta ton.

Kecukupan Pasokan dan Peningkatan Kesejahteraan Petani

Mengingat kebutuhan beras nasional berada di kisaran 2,5 juta ton setiap bulannya, Amran memastikan total ketersediaan yang ada mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga sepuluh bulan ke depan. Ia menegaskan bahwa ketersediaan beras nasional aman sampai dengan bulan Juli tahun depan.

Selain masalah cadangan pangan, Amran menyoroti kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) yang didorong oleh kebijakan penurunan harga pupuk serta kenaikan harga pembelian pemerintah untuk gabah. Ia menyebutkan harga pupuk telah dipangkas sebesar 20 persen dan dampaknya dirasakan oleh sekitar 115 juta petani di seluruh Indonesia.

Kombinasi penurunan harga sarana produksi dan kenaikan harga gabah tersebut mendongkrak Nilai Tukar Petani ke level 131. Amran menyatakan angka tersebut merupakan capaian tertinggi sejak tahun 1992 bahkan sejak Indonesia merdeka.

Mungkin Anda Suka