Apple akhirnya menghadirkan fitur layar sentuh pada lini komputer jinjing lewat kehadiran MacBook Pro dengan PROLED XDR Display yang dijadwalkan rilis pada 6 November. Meski demikian, perangkat baru ini dinilai belum memenuhi harapan bagi mereka yang menginginkan penggabungan total antara fungsi iPad dan komputer Mac.
Keterbatasan Desain Layar Sentuh
Berdasarkan laporan CNET, MacBook Pro terbaru tersebut tidak mengalami perubahan desain yang signifikan pada bodi laptop selain penambahan kemampuan layar sentuh. Engsel layar tidak dapat dilipat ke belakang atau direntangkan secara rata layaknya komputer lipat, melainkan hanya bisa dimiringkan pada sudut standar laptop konvensional saat pengguna menyentuh permukaannya.
Pihak CNET mencatat bahwa sistem operasi macOS tampaknya belum mengalami evolusi besar untuk mengakomodasi navigasi sentuh secara transformatif. Interaksi sentuh tersebut dinilai belum mengadopsi alur kerja yang selama ini sudah berjalan dengan sangat baik pada perangkat iPhone maupun iPad.
Harga Tinggi dan Potensi Masa Depan
Perangkat yang dinamai MacBook Pro dengan PROLED XDR Display ini dibanderol dengan harga mulai dari US$2.899 atau sekitar Rp46 juta, sehingga tidak terjangkau bagi sebagian besar kalangan. Selain itu, komputer jinjing ini juga tidak mendukung penggunaan Apple Pencil untuk menggambar serta tidak mengusung konsep perangkat konversi.
Kendati demikian, kehadiran layar sentuh ini dipandang sebagai langkah awal bagi Apple di dunia komputer jinjing layar sentuh. Perhatian utama dari produk ini justru terletak pada penggunaan panel layar OLED yang menjadi fitur profesional sesungguhnya, sementara kemampuan sentuhnya terasa seperti tambahan fitur semata.
Harapan kini tertuju pada tahun 2027 mendatang, di mana Apple diharapkan mampu memulai diskusi yang lebih transformatif mengenai evolusi komputer Mac berteknologi sentuh serta jajaran iPad di masa depan.







