Sistem kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI) buatan Microsoft diklaim mampu mendiagnosis kasus medis kompleks dengan akurasi yang lebih tinggi daripada dokter umum. Teknologi tersebut juga dirancang untuk mengurangi jumlah pemeriksaan yang diperlukan sebelum menentukan diagnosis.
Hasil Pengujian Kasus Kompleks dan IGD
Seperti dilaporkan Liputan6.com dari Gizmodo pada Sabtu (24/10/2026), penelitian mengenai Microsoft AI Diagnostic Orchestrator (MAI-DxO) telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Science setelah sebelumnya diunggah sebagai *preprint* di arXiv pada 2025. Sistem bernama MAI-DxO ini membantu proses diagnosis dengan menyusun pertanyaan lanjutan dan memilih pemeriksaan yang relevan, sehingga AI dapat mengumpulkan informasi secara bertahap.
Dalam pengujian menggunakan kasus medis kompleks dari The New England Journal of Medicine, MAI-DxO mencatat akurasi diagnosis sebesar 83,2 persen. Sebagai perbandingan, dokter umum yang memiliki akses ke bahan referensi hanya mencapai akurasi 36,1 persen, dan tanpa bahan referensi akurasi dokter umum turun menjadi sekitar 22 persen. Melalui skenario ini, hasil AI Microsoft hampir empat kali lebih tinggi dibandingkan dokter yang diuji.
Sementara itu, pengujian lain menggunakan kasus pasien di instalasi gawat darurat (IGD) menunjukkan MAI-DxO mencapai akurasi 80,3 persen, sedangkan dokter umum memperoleh 46,8 persen. Sistem ini mencatat hasil terbaik ketika menggunakan GPT-5 dari OpenAI, dan pengujian tambahan memperlihatkan peningkatan kinerja saat MAI-DxO menggunakan GPT-5.5. Microsoft turut mengklaim pendekatan tersebut dapat memangkas biaya pemeriksaan menjadi setengah hingga sepertiga dari biaya pembanding karena memerlukan lebih sedikit tes dan prosedur, meski angka itu berasal dari estimasi dalam simulasi dan bukan pengeluaran medis nyata.
Cara Kerja dan Rencana Pengujian Klinis
MAI-DxO bekerja dengan tidak langsung memproses seluruh gejala, riwayat kesehatan, dan hasil pemeriksaan sekaligus. Sistem memulai analisis dari keluhan utama, lalu mencari informasi tambahan sesuai kebutuhan sebelum menyusun diagnosis melalui beberapa agen AI dengan tugas berbeda, seperti mengusulkan kemungkinan penyakit, memilih tes, memeriksa asumsi, dan mempertimbangkan biaya pemeriksaan. Pembagian tugas ini dinilai berpotensi mengurangi bias dalam proses diagnosis agar sistem tidak terlalu terpaku pada dugaan awal atau mengabaikan kemungkinan penyakit lain.
Microsoft berencana menguji MAI-DxO di Beth Israel Deaconess Medical Center, Boston, Amerika Serikat, dalam beberapa bulan mendatang guna mengevaluasi kinerjanya di lingkungan klinis saat menangani pasien secara langsung. Kendati mencatat akurasi tinggi dalam pengujian, para peneliti memperkirakan selisih kinerja akan mengecil jika teknologi ini dibandingkan dengan dokter spesialis alih-alih dokter umum.
Penggunaan AI dalam keputusan medis juga memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab jika diagnosis yang dihasilkan ternyata keliru, sehingga validasi klinis dan keterlibatan tenaga medis tetap menjadi bagian penting sebelum teknologi tersebut digunakan secara luas.
Sumber: Liputan6.com Internet








