Luo Fuli, perempuan asal desa kecil di Sichuan, China, kini menjadi salah satu peneliti kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI) yang diperhitungkan setelah berperan penting dalam kesuksesan DeepSeek. Perjalanan kariernya dari keluarga sederhana hingga bergabung dengan Xiaomi turut menarik perhatian publik, termasuk tawaran gaji tahunan miliaran rupiah.
Latar Belakang Sederhana dan Awal Perjuangan Akademik
Perempuan berusia 30 tahun itu dikenal sebagai gadis jenius AI berkat kontribusinya dalam pengembangan teknologi DeepSeek. Berbeda dengan citranya di media sosial sebagai sosok berbakat sejak lahir, Luo mengawali perjalanan akademiknya dari latar belakang sederhana. Ia lahir di sebuah desa kecil di Sichuan dari keluarga biasa dengan ayah seorang teknisi listrik dan ibu yang berprofesi sebagai guru.
Saat kecil, Luo hampir tidak memiliki akses terhadap komputer, namun ia sudah tertarik pada logika dan algoritma dengan membaca buku-buku dari perpustakaan komunitas setempat, menurut laporan NDTV. Pada 2016, ia diterima di School of Information Technology, Beijing Normal University, dan sempat mengalami kejutan besar karena minim pengalaman menggunakan komputer di tengah lingkungan kampus yang dipenuhi mahasiswa berkemampuan tinggi.
Dalam ujian pertamanya, Luo menempati peringkat bawah di kelas hingga mengalami krisis kepercayaan diri. Namun, ia memilih bangkit dengan belajar setiap hari di perpustakaan sejak pagi dan menyalin serta menghafal kode sumber demi menguasai pemrograman. Kerja keras tersebut membawanya menjadi salah satu mahasiswa terbaik di kelas, sebelum melanjutkan pendidikan magister di Peking University dengan spesialisasi Natural Language Processing (NLP).
Tantangan di Peking University membuatnya harus menghabiskan sebagian besar waktu di laboratorium untuk mengerjakan penelitian. Dalam sebuah wawancara, ia menceritakan tekanan menyelesaikan tesis yang membuatnya tidak bisa lama-lama berada di kampung halaman saat perayaan Tahun Baru Imlek.
“Ketika saya kembali ke asrama dan mendengar kembang api di luar, saya berbaring di tempat tidur dan tidak bisa berhenti menangis,” katanya, dikutip dari VNExpress.
Upaya keras tersebut membuahkan delapan makalah ilmiah di ACL, konferensi terkemuka di bidang NLP, dengan dua di antaranya menempatkannya sebagai penulis utama. Pencapaian ini membuat namanya populer di Zhihu, platform tanya jawab kalangan intelektual di China, serta mendatangkan berbagai tawaran penulisan buku dan kursus yang semuanya ia tolak demi fokus pada karier teknologi.
Karier di Dunia Riset AI dan Bergabung dengan Xiaomi
Setelah lulus, Luo bergabung dengan DAMO Academy, lembaga riset milik Alibaba, dan bertanggung jawab atas proyek AliceMind serta memimpin pengembangan model pralatih lintas bahasa bernama VECO. Model tersebut mendapat pengakuan tinggi dan menjadi salah satu dari delapan model inti dalam sistem AliceMind.
Luo meninggalkan DAMO Academy pada 2022 untuk bergabung dengan perusahaan investasi High-Flyer guna mengerjakan pengembangan model *deep learning*. Setahun kemudian, ia menjadi salah satu insinyur kunci di balik pengembangan DeepSeek-V2, model berbasis arsitektur Mixture of Experts (MoE) yang menarik perhatian setelah dirilis.
Ia menyebut DeepSeek-V2 mampu bersaing dengan model AI terkemuka dunia dalam kemampuan berbahasa Mandarin dengan biaya pengembangan dan penggunaan yang jauh lebih murah dari GPT-4. Keberhasilan model tersebut mengangkat namanya di industri AI.
Dalam siaran akhir tahun 2024, Chairman Xiaomi Lei Jun dilaporkan menawarkan gaji tahunan puluhan juta yuan kepada Luo untuk memimpin tim riset dan pengembangan AI perusahaan, yang jika dirata-ratakan setara ratusan juta hingga miliaran rupiah per bulan. Setelah berbulan-bulan menjadi spekulasi publik, Luo mengonfirmasi bergabung dengan Xiaomi pada pekan lalu.
Menurut The Standard, Luo kini menggarap Xiaomi MiMo, model bahasa besar atau *large language model* pertama dari raksasa teknologi China tersebut. Dalam unggahan terbarunya di media sosial, ia menyoroti arah perkembangan kecerdasan buatan yang tidak lagi terbatas pada bahasa.
“Kecerdasan pada akhirnya akan berkembang dari bahasa menuju dunia fisik, membuka kecerdasan spasial untuk persepsi, penalaran, generasi, dan tindakan multimodal, yang penting bagi AGI (artificial general intelligence) sejati,” tulisnya.







